Modul 3: Karunia Konsistensi
April 27th, 2009 by arinamseAnak memiliki memori yang sangat dahsyat. Jika kita ingin menyuruh anak untuk melakukan sesuatu, waktu yang paling mudah adalah pada saat anak baru bangun tidur dan ketika anak akan tidur. Bagi anak2 lebih banyak bekerja di pikiran bawah sadar, serta apa yang disaksikan akan langsung masuk dan mengendap dalam pikiran bawah sadar.
Kelakuan meniru dimulai sejak usia beberapa bulan. Umur 1 tahun kebawah, wajah kita adalah cermin bagi wajah anak, sehingga anak cenderung mengikuti apa yang dilakukan orang tuanya. Pada usia anak 2 tahun, sikap kita adalah cermin dari sikap anak. Anak mulai belajar membangkang dan berkata tidak karena ia ingin berbeda dengan orang tuanya. Ketika anak berusia 3 tahun, perilaku kita adalah cermin ‘nilai’ perilaku anak. Oleh sebab itu, masukan nilai-nilai yang sopan maupun mana yang tidak sopan. Jika orang tua lalai maka nilai-nilai itu akan dimasukkan oleh TV dan lingkungan.
Ada banyak perkataan dan tingkah laku orang tua yang dapat menyebabkan konflik pada pikiran bawah sadar anak. Setiap perkataan dan tindakan yang diulang, pikiran bawah sadar akan membenarkan tindakan dan perkataan tersebut sebagai sesuatu yang benar (fakta kebenaran / kenyataan).
- Jangan gunakan kata-kata yang negatif, namun gunakan kata-kata yang positif.
- Jangan pernah berbohong atau ingkar janji pada anak. Kadang kita memberi ancaman pada anak (misalnya, awas ya kalau kamu tidak mau pulang dari rumah temanmu nanti mama tinggal pergi) tapi pada kenyataannya kita tidak melakukan apapun.
- Kalaupun kita terpaksa ‘mengancam’ anak kita, sebaiknya jangan menyakiti dan pilih yang ringan.
- Kalau kita menyerah sekali (karena tidak konsisten) berarti kita mengajarkan anak untuk sering marah di masa mendatang.
- Kenakalan anak hanya 10% karena anak belum terampil mengendalikan responsnya. Lebih ataupun kurang dari 10% tergantung orang tua.
Tidak termasuk konsisten jika tidak bicara sesuai kenyataan, misalnya berkata bahwa permen itu jijik, atau memukul tembok seolah2 kita memarahi tembok karena anak terbentur tembok.
Posted in Kehidupan |