Kondisi Sektor Pasar Utang Periode Januari - Desember 2008
January 21st, 2009 by arinamseNilai nominal Obligasi Negara berdenominasi Rupiah yang tercatat dan dapat diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia sampai dengan tanggal 30 Desember 2008 sebesar Rp 525,69 triliun, dengan rincian Seri Fixed Rate sebesar Rp 318,92 triliun, Seri Variable Rate sebesar Rp 145,93 triliun, Zero Coupon sebesar Rp 11,49 triliun, Obligasi Retail sebesar Rp 34,63 triliun, Surat Perbendaharaan Negara sebesar Rp 10,01 triliun serta Surat Berharga Syariah Nasional sebesar Rp 4,70 triliun. Gejolak yang terjadi di pasar Surat Utang Negara (SUN) menyebabkan menurunnya keyakinan pelaku pasar. Kondisi tersebut tercermin dari tipisnya volume dan frekuensi perdagangan SUN. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa pelaku pasar masih wait and see dalam menyikapi volatilitas yang terjadi pada pasar keuangan global. Volume transaksi Obligasi Negara yang dilaporkan melalui sistem OTC-FIS (Over the Counter Fixed Income Trading System) dan PLTO (Penerima Laporan Transaksi Obligasi) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 937,84 triliun selama periode Januari hingga Desember tahun 2008. Nilai transaksi tersebut mengalami penurunan sebesar 24,70% dibandingkan dengan transaksi SUN selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 1.245,51 triliun. Rata-rata transaksi Obligasi Negara per hari selama tahun 2008 sebesar Rp 3.843,62 miliar (244 hari), sedangkan selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 5.063,06 miliar (246 hari).
Di lain pihak, nilai nominal Obligasi Korporasi yang tercatat dan dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia per 30 Desember 2008 dalam denominasi Rupiah sebesar Rp 72,98 triliun. Volume transaksi Obligasi Korporasi berdenominasi Rupiah yang dilaporkan melalui sistem OTC-FIS (Over the Counter Fixed Income Trading System) dan PLTO (Penerima Laporan Transaksi Obligasi) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 53,72 triliun selama periode Januari hingga Desember 2008. Nilai transaksi tersebut mengalami penurunan sebesar 22,83% dibandingkan dengan transaksi Obligasi Korporasi selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 69,61 triliun. Rata-rata transaksi Obligasi Korporasi berdenominasi Rupiah per hari selama tahun 2008 sebesar Rp 220,17 miliar (244 hari), sedangkan selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 282,98 miliar (246 hari).
| Dalam Triliun Rupiah | Dec-07 | Jan-08 | Feb-08 | Mar-08 | Apr-08 | May-08 | Jun-08 | Jul-08 | Aug-08 | Sep-08 | Oct-08 | Nov-08 | Dec-08 | Porsi |
| Bank | 268,65 | 266,74 | 267,91 | 273,12 | 267,57 | 271,16 | 272,18 | 266,64 | 263,54 | 261,04 | 274,13 | 265,00 | 258,75 | 49,22% |
| Bank BUMN Rekap | 154,67 | 152,13 | 150,63 | 155,22 | 149,12 | 148,59 | 153,69 | 148,58 | 145,07 | 146,08 | 144,90 | 145,13 | 144,72 | 27,53% |
| Bank Swasta Rekap | 72,63 | 70,15 | 72,48 | 73,15 | 72,74 | 73,21 | 73,00 | 72,26 | 67,68 | 65,58 | 67,84 | 67,54 | 61,67 | 11,73% |
| Bank Non Rekap | 35,37 | 38,65 | 38,46 | 38,40 | 39,14 | 42,79 | 38,63 | 39,00 | 42,90 | 42,02 | 53,09 | 44,34 | 45,17 | 8,59% |
| BPD | 5,97 | 5,80 | 6,35 | 6,34 | 6,57 | 6,57 | 6,85 | 6,80 | 7,17 | 6,64 | 7,57 | 7,25 | 6,50 | 1,24% |
| Bank Syariah | - | - | - | - | - | - | - | - | 0,73 | 0,73 | 0,73 | 0,73 | 0,69 | 0,13% |
| Bank Indonesia | 14,86 | 14,86 | 14,86 | 14,87 | 14,86 | 15,30 | 16,04 | 16,04 | 17,75 | 21,93 | 18,08 | 25,62 | 23,01 | 4,38% |
| Departemen Keuangan | - | - | - | - | - | - | - | - | - | - | - | - | - | 0,00% |
| Non Bank | 194,24 | 194,46 | 200,18 | 210,41 | 216,96 | 225,22 | 232,01 | 244,01 | 257,69 | 258,72 | 249,49 | 243,84 | 243,93 | 46,40% |
| Reksadana | 26,33 | 25,69 | 27,19 | 27,69 | 29,02 | 29,91 | 30,98 | 35,15 | 35,77 | 35,18 | 34,64 | 33,54 | 33,11 | 6,30% |
| Asuransi | 43,47 | 43,44 | 43,27 | 44,47 | 45,00 | 45,58 | 47,40 | 49,51 | 52,78 | 53,09 | 54,41 | 55,60 | 55,83 | 10,62% |
| Asing | 78,16 | 79,07 | 83,38 | 80,74 | 86,19 | 91,66 | 94,10 | 100,01 | 106,98 | 105,49 | 92,81 | 86,42 | 87,61 | 16,67% |
| Dana Pensiun | 25,50 | 25,68 | 25,93 | 26,41 | 27,12 | 27,62 | 28,55 | 29,16 | 30,04 | 30,40 | 32,49 | 33,15 | 32,98 | 6,27% |
| Sekuritas | 0,28 | 0,57 | 0,87 | 0,64 | 0,90 | 1,07 | 0,78 | 0,37 | 0,56 | 0,71 | 0,60 | 0,67 | 0,53 | 0,10% |
| Lain - Lain | 20,50 | 20,01 | 19,53 | 30,47 | 28,73 | 29,39 | 30,21 | 29,81 | 31,56 | 33,86 | 34,54 | 34,47 | 33,87 | 6,44% |
| Total | 477,75 | 476,05 | 482,95 | 498,40 | 499,40 | 511,68 | 520,23 | 526,68 | 538,99 | 541,70 | 541,70 | 534,46 | 525,69 | 100,00% |
Sumber: Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Depkeu
Nilai Surat Utang Negara (SUN) pada posisi per akhir Desember 2008 sebesar Rp 525,69 triliun, atau meningkat sebesar 10,03% yoy dibandingkan dengan posisi per akhir Desember 2007 sebesar Rp 477,75 triliun. Penempatan terbesar per akhir Desember 2008 terdapat pada sektor perbankan yang mencapai Rp 258,79 triliun (merupakan 49,23% dari total) yang cenderung bergerak fluktuatif selama tahun 2008, dimana Bank BUMN Rekap melakukan penempatan dana sebesar Rp 144,72 triliun (27,53%), diikuti oleh Bank Swasta Rekap sebesar Rp 61,67 triliun (11,73%). Penempatan pada non perbankan per 30 Desember 2008 mencapai Rp 243,93 triliun (merupakan 46,40% dari total), atau cenderung menunjukkan peningkatan dari periode akhir Desember 2007 sebesar Rp 194,24 triliun. Porsi kepemilikan asing terhadap SUN menunjukkan tren peningkatan dari akhir Desember 2007 sebesar Rp 78,16 triliun menjadi Rp 105,49 triliun per akhir September 2008, namun kembali menurun selama periode Oktober 2008 sebesar Rp 92,81 triliun menjadi Rp 87,61 triliun pada akhir Desember 2008 (16,67% dari total). Penurunan porsi asing pada Triwulan IV tahun 2008 tersebut terutama disebabkan oleh sikap investor dunia yang menjadi risk averse dan mengalihkan investasinya pada tempat yang dianggap paling aman, yaitu Treasury Bills US. Gejolak pasar keuangan global yang dipicu krisis pasar kredit di AS terus menekan dan menimbulkan pesimisme pelaku pasar secara global. Investasi di Emerging Market (termasuk Indonesia) dianggap beresiko tinggi akibat terjadinya krisis keuangan global tersebut.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Bloomberg, kurva tingkat imbal hasil Obligasi Pemerintah selama tahun 2008 secara umum terlihat mengalami peningkatan (dengan kata lain selama periode tersebut terdapat penurunan harga pasar Obligasi Pemerintah).Penurunan kinerja Obligasi Pemerintah pada tahun 2008 lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Gejolak pasar keuangan global yang mengarah pada pengetatan likuiditas secara global dan proses deleveraging menyebabkan yield Obligasi Pemerintah untuk seluruh tenor terus naik. Kondisi yield Obligasi Pemerintah juga terus tertekan searah dengan terjadinya pelemahan nilai tukar serta kenaikan risiko emerging market.Meningkatnya yield Obligasi Pemerintah secara signifikan menyebabkan Pemerintah tidak melakukan penerbitan SUN selama Triwulan IV tahun 2008. Pemerintah juga membatalkan penerbitan sukuk (SBSN) global kepada Islamic Development Bank pada akhir tahun 2008.
Yield Obligasi Pemerintah jangka pendek hingga menengah per tanggal 31 Desember 2008 berkisar antara 11,27% hingga 11,80%, sedangkan untuk obligasi jangka panjang memiliki tingkat yield yang antara 11,83% hingga 12,22%. Di lain pihak, Yield Obligasi Pemerintah jangka pendek hingga menengah per tanggal 31 Desember 2007 berkisar antara 7,75% hingga 9,21%, sedangkan untuk obligasi jangka panjang memiliki tingkat yield yang antara 9,58% hingga 10,67%.
Posted in Pasar Utang |