Perekonomian Indonesia tahun 2008 secara umum mencatat perkembangan yang baik di tengah terjadinya gejolak eksternal. Namun sejak Triwulan IV tahun 2008, gejolak keuangan global telah menyebabkan tekanan pada perekonomian Indonesia. Melemahnya ekspor, tekanan pada Neraca Pembayaran Indonesia dan gejolak di pasar uang, telah menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di pasar keuangan, kondisi likuiditas keuangan global ketat dan pada waktu bersamaan persepsi risiko terhadap negara emerging markets semakin meningkat.
I. 1. Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar
Perlambatan ekonomi yang dialami negara maju (G3) akibat ketatnya likuiditas serta jatuhnya penyaluran kredit berdampak luas terhadap ekonomi regional. Penurunan ekspor, seiring dengan melambatnya permintaan ekspor dari negara maju yang mengalami resesi, mendorong memburuknya prospek neraca pembayaran Indonesia. Sementara itu, berlanjutnya krisis di sektor keuangan AS hingga mengenai sektor otomotif memicu terjadinya capital flight sejalan dengan risk aversion investor asing. Hal tersebut berdampak pada pembalikan dana asing dari aset negara regional sehingga menyebabkan mata uang regional mengalami tekanan depresiasi. Daya tahan fundamental domestik yang masih kondusif ditambah dengan stance kebijakan moneter ketat dan stabilisasi di pasar valas oleh Bank Indonesia mampu menahan tekanan depresiasi rupiah yang lebih besar.
Nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia per tanggal 31 Desember 2008 sebesar Rp 10.950/US$ atau melemah sebesar 16,25% yoy dibandingkan dengan posisi kurs per tanggal 28 Desember 2007 sebesar Rp 9.419/US$. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar tersebut terutama terjadi pada Triwulan IV tahun 2008, terkait dengan arus modal keluarbaik melalui pasar saham, SBI dan obligasi negara. Meningkatnya intensitas krisis pasar keuangan global sejak September 2008 yang dipicu oleh bangkrutnya perusahaan Lehman Brothers, menimbulkan tekanan terhadap nilai rupiah. Permintaan US Dollar meningkat terkait dengan preferensi investor memegang cash dengan menjual investasi di negara berkembang seperti Indonesia yang dianggap berisiko. Indonesia dianggap investor dunia yang paling menderita akibat krisis global, sehingga baik Currency Default Swap maupun Nilai Tukar Rupiah sangat terpuruk. Namun demikian, kebijakan makroekonomi yang berhati-hati disertai langkah stabilisasi nilai tukar di pasar secara umum dapat meminimalkan tekanan yang berlebihan akibat perkembangan eksternal tersebut.
Cadangan devisa Indonesia menunjukkan peningkatan secara bertahap, dari US$ 56,920.00 juta per akhir Desember 2007 menjadi US$ 60,563.00 juta per akhir Juli 2008, yang kemudian mengalami penurunan hingga menjadi US$ 57,108.00 juta per akhir September 2008 (setara dengan 4,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah). Namun selama Triwulan IV tahun 2008, cadangan devisa menurun secara drastis per akhir Oktober 2008 sebesar US$ 50,580.00 juta hingga akhir Desember 2008 sebesar US$ 51,639.32 juta. Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan Giro Bank di Bank Indonesia terkait dengan diterapkannya Ketentuan Giro Wajib Minimum yang baru, yaitu Peraturan BI No. 10/19/PBI/2008 tanggal 14 Oktober 2008.
I. 2. Tingkat Inflasi
Mulai tanggal 1 Juli 2008, penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Juni 2008 menggunakan tahun dasar 2007 = 100 (sebelumnya 2002 = 100) yang didasarkan pada hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2007. Cakupan kota bertambah dari 45 menjadi 66 kota, sedangkan paket komoditas naik dari 744 pada tahun 2002 menjadi 774 tahun 2007. Bobot komoditas makanan turun dari 43,38 persen menjadi 36,12 persen. Dengan diberlakukannya IHK 2007=100, maka mulai 1 Juli 2008 penghitungan inflasi dengan IHK 2002 = 100 tidak lagi dilanjutkan.
Pada bulan Desember 2008, telah terjadi deflasi sebesar 0,04%, dimana penurunan harga ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,74% mom, sedangkan kelompok lainnya mengalami kenaikan indeks sebagai berikut: kelompok sandang 1,13% mom, kelompok bahan makanan 0,57% mom, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,52% mom, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,52% mom, kelompok kesehatan 0,21% mom, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,16% mom.Beberapa komoditas yang mengalami penurunan hargaselama bulan Desember 2008 antara lain: bensin, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, kelapa, minyak goreng, besi beton dan solar.
Laju inflasi tahun kalender (Januari – Desember 2008) sama dengan laju inflasi year on year (Desember 2008 terhadap Desember 2007) sebesar 11,06%. Inflasi selama periode Januari hingga Desember 2008 tersebut terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok barang dan jasa sebagai berikut: kelompok bahan makanan 16,35% yoy, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 12,53% yoy, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 10,92% yoy, kelompok kesehatan 7,96% yoy, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 7,49% yoy, kelompok sandang 7,33% yoy, serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 6,66% yoy.Tingkat inflasi selama tahun 2008 sebesar 11,06% lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi selama periode yang sama tahun 2007 sebesar 6,59%.
Kebijakan moneter pada tahun 2008 diarahkan untuk menurunkan tekanan inflasi yang didorong oleh tingginya permintaan agregat terutama pada paruh pertama tahun 2008 dan dampak lanjutan (second round effect) dari kenaikan harga BBM yang mendorong inflasi sempat mencapai 12,1%. Tingginya tekanan inflasi yang bersumber dari permintaan agregat tercermin juga dari defisit transaksi berjalan sejak Triwulan II tahun 2008 akibat melonjaknya impor, serta meningkatnya jumlah uang beredar, terutama M1.
I. 3. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Sepanjang tahun 2008, BI Rate menunjukkan kestabilan dari awal Januari hingga awal April 2008 pada level 8,00%, serta kemudian meningkat secara bertahap hingga akhirnya menjadi 9,50% pada tanggal 7 Oktober dan 6 November 2008, untuk mengantisipasi berlanjutnya tekanan inflasi. Dengan kebijakan moneter tersebut, ekspektasi inflasi masyarakat tidak terakselerasi lebih lanjut dan tekanan neraca pembayaran dapat dikurangi. Selanjutnya, dengan turunnya harga komoditi dunia serta melambatnya permintaan agregat sebagai imbas dari krisis keuangan global, Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi ke depan menurun sehingga BI Rate per tanggal 4 Desember 2008 diturunkan sebesar 25 bps menjadi sebesar 9,25%.Berdasarkan analisa Danareksa, terdapat korelasi yang kuat antara tingkat BI Rate dengan pertumbuhan ekonomi, dimana pada tingkat tertentu BI Rate yang tinggi akan menurunkan/menghambat laju pertumbuhan ekonomi.
Pada saat yang bersamaan, suku bunga US Federal Fund Rate terlihat menurun dari awal tahun 2008 sebesar 4,25% hingga akhir April 2008 sebesar 2% dan terus bertahan hingga awal Oktober 2008. Hal ini merupakan upaya The Fed dalam mencegah dampak buruk krisis ekonomi yang meluas walaupun inflasi di Amerika sendiri menunjukkan peningkatan akibat peningkatan harga energi dan komoditas di pasar internasional. Kehancuran pasar finansial semakin bertambah secara signifikan dengan dampak terhadap pasar tenaga kerja yang semakin melemah. Pertumbuhan ekonomi di US mengalami perlambatan, yang antara lain ditunjukkan oleh menurunnya pengeluaran konsumsi domestik. Fed Rate terus mengalami penurunan hingga level antara 0% - 0,25% per tanggal 16 Desember 2008. Secara keseluruhan, aktivitas ekonomi semakin melemah. Dalam masa mendatang, Komite Fed Fund akan mendukung fungsi pasar keuangan dan mendorong ekonomi melalui operasi pasar terbuka guna mempertahankan neraca keuangan Federal Reserve pada level yang cukup tinggi.
I. 4. Indeks Harga Saham Gabungan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai dengan Desember 2008 masih menunjukkan fluktuasi yang tinggi dan ditutup pada level 1.355,41 atau telah turun 50,64% dibandingkan awal tahun 2008. Penurunan IHSG ini akibat imbas dari krisis ekonomi global yang juga mempengaruhi bursa – bursa saham dunia.