Blogroll

Search

Fatwa Haram Merokok

January 28th, 2009 by arinamse

Koran Republika tanggal 27 Januari 2009 kemarin memuat berita tentang keputusan MUI untuk menerbitkan fatwa haram bagi beberapa hal, diantaranya mengenai merokok, yaitu merokok bagi anak-anak, ibu hamil dan merokok di tempat umum. Tadi pagi (28 Januari 2009), aku melihat berita di Indosiar mengenai aksi protes kaum muslim di sebuah pesantren di Kediri serta keberatan dari buruh pabrik rokok di Kediri karena dikhawatirkan akan berdampak pada penutupan pabrik rokok yang pada akhirnya akan berdampak pada pengurangan / layoff buruh2 tersebut.

Secara pribadi, aku sangat setuju dengan keputusan fatwa haram MUI tersebut karena siapapun pasti telah mengetahui besarnya dampak negatif dari aktivitas merokok. Bahkan perokok pasif pun dapat terkena pengaruh buruk dari para perokok aktif yang ada di sekitarnya karena telah menghirup asap rokok yang berbahaya bagi kesehatan tersebut. Tidakkah orang2 mengetahui betapa ruginya merokok, yang tidak ada bagus2nya bagi kesehatan dan dompet?? Heran…

Apalagi bagi orang yang dengan seenaknya suka merokok di tempat umum. Mereka SANGAT tidak menghiraukan orang lain yang berada di dekatnya karena terpaksa harus ikut menghirup asap rokok. Ada info yang menyatakan bahwa asap rokok tidak akan menghilang begitu saja, sisanya akan melekat pada pakaian atau barang kita, sama seperti virus mungkin.

Bagi ibu hamil yang turut menghisap asap rokok, akan sangat berbahaya bagi janin yang dikandungnya. Tentu tidak ada yang menginginkan punya bayi cacat bukan?? Selain itu, saat ini banyak anak-anak di bawah umur yang sudah ikut2an merokok. Kupikir perlu lebih banyak edukasi tentang bahaya merokok kepada anak2 kecil plus kepada orangtuanya sekalian. Suatu hari, aku pernah melihat seorang bapak dan seorang ibu (di waktu yang berbeda) merokok tepat di muka anaknya. Bener2 deh, mereka ga berpikir panjang bahwa asapnya tuh dihirup sang anak, masuk ke paru2 dan bisa menyebabkan penyakit. Please deh, banyaklah mebaca supaya lebih gaul dan punya pengetahuan tentang merokok. Jangan egois sendiri mementingkan diri sendiri dengan hobi merokok.

Jadi, DENGAN INI AKYU MENDUKUNG FATWA MUI YANG AKAN MENGHARAMKAN ROKOK. HIDUP UDARA YANG SEHAT!!! Bagi para perokok, mengalahlah dengan ego kalian dan belajar mengurangi rokok yang pastinya akan berdampak positif bagi keluarga kalian.

Posted in Kehidupan | No Comments »

Weekend on January 24 - 26, 2009

January 26th, 2009 by arinamse

Gong Xi Fat Choi!!!! Bener ga tuh tulisannya. Selamat Hari Raya Imlek bagi teman2 Chinese. Semoga rejekinya bertambah banyak terutama dengan turunnya hujan selama beberapa hari belakangan ini, hingga membuatku cukup khawatir banjir akan kembali melanda tempat kos-ku. Untunglah, sampai saat ini masih aman. Ketinggian air sungai di samping kantor tidak terlalu berbahaya, meskipun kadang kalau hujan deras airnya langsung naik cukup signifikan. Hiii…

Anyway, on this weekend I went home as usual. At the beginning, my sister and I have some plans to go out together. Tapi sayangnya, driver-ku ga datang selama 3 hari berturut2!!!! Hari Sabtu ga datang, kita pikir dia sakit. Hari Minggu dia datang sebentar sama anaknya, ternyata ada berita duka cita, yakni ayah mertuanya meninggal setelah sempat sekarat di RS. Aku ikut berduka cita dan mengerti kondisinya saat ini. Tapi yang bikin sebel, tuh driver ga kasih tahu sama sekali sebelumnya kalau ternyata dia sedang kesusahan seperti ini. Padahal maunya keluargaku, mbok ya kasih kabar gitu kenapa dia ga bisa datang. Hal ini pun sudah diingatkan berkali-kali. Tapi entah ya, mungkin karena dia anak lelaki satu2nya atau gimana, sampai dia mengurusi keluarganya dan lupa untuk minta ijin ke kakakku, sebagai orang yang mempekerjakan dia. Tiba-tiba aja dia datang di hari Minggu itu dengan berita duka cita dan wajah sedih sambil menangis karena merasa ga enak sama keluargaku sampai ingin mengundurkan diri. Ampuunnn dehhhhh.

Akhirnya, okelah kita kasih waktu dia untuk mengurus pemakaman ayahnya dan kita pikir dia bakal datang Minggu sore. Tapi ternyata tetap saja dia ga nongol ke rumah, bahkan sampai hari Senin ga datang juga. Mami-ku sampai marah2, mengusulkan ganti driver aja. Tapi kan ga semudah itu juga. Ada sih pilihan driver lain, tapi kan harus dipertimbangkan matang2 apakah lebih baik atau bahkan lebih buruk dari driver yang ada sekarang. Alhasil, beberapa rencana ga jadi dilakukan karena ga ada yang nyetirin. Meskipun, hari Minggu sore, yayangku sempet mengantar ke rumah Jungle untuk mengembalikan beberapa kursi dan meja yang dipinjam dari sana, untuk acara Lansia beberapa waktu lalu.

Ya sudahlah, aku main-main saja sama Sena-kyu yang makin ndut dengan perut buncitnya hahahahahaha!!!! Mana hari Minggu-nya itu, bibi pembantuku yg pulang hari, ga masuk juga. Waduh, kompakan ama pak Supir nih. Jadi aku harus bantu2 mami-ku tercinta untuk beberes, ngepel lantai (ini sih maksudnya biar aku agak kurus juga sekalian olahraga gitu hehehehehe dan biar merasa rumah lebih bersih karena pasti beda lah kalau yang ngepel pembantu ama kita sendiri), juga masak telur buat kakakku, Sena dan Eyang Putri hehehehe.

Selama ini aku tuh ga pernah bikin telur dadar tapi sudah tahu caranya lah. Tinggal aduk2 telur di mangkuk dan dikasih garam sedikit, langsung cemplung aja ke penggorengan. Tapi sempat bingung juga sih, minyaknya sedikit apa banyak ya, harus panas banget apa ga ya. Tapi sudahlah, namanya juga lagi belajar. Practice bentar, lama2 juga tahu kok apa yang kurang dan harus diperbaiki. Sempet rada kematangan sih karena aku sering ga yakin apakah isi di dalamnya sudah matang atau belum. Plus mami-ku minta dibuatkan telur dadar yang pedas, caranya bawang putih dan cabai ditumbuk dulu baru setelah itu dicampurkan ke dalam telur dan diaduk. Baru digoreng deh. Hehehehehe, baru tahu gue kalau cara detailnya kayak gitu. Meskipun baru belajar, tapi Sena seneng kok sama telur dadar buatan tante cantiknya ini hahahahahhahah!!!!!

Posted in Kehidupan | 1 Comment »

Kondisi Sektor Pasar Utang Periode Januari - Desember 2008

January 21st, 2009 by arinamse

Nilai nominal Obligasi Negara berdenominasi Rupiah yang tercatat dan dapat diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia sampai dengan tanggal 30 Desember 2008 sebesar Rp 525,69 triliun, dengan rincian Seri Fixed Rate sebesar Rp 318,92 triliun, Seri Variable Rate sebesar Rp 145,93 triliun, Zero Coupon sebesar Rp 11,49 triliun, Obligasi Retail sebesar Rp 34,63 triliun, Surat Perbendaharaan Negara sebesar Rp 10,01 triliun serta Surat Berharga Syariah Nasional sebesar Rp 4,70 triliun. Gejolak yang terjadi di pasar Surat Utang Negara (SUN) menyebabkan menurunnya keyakinan pelaku pasar. Kondisi tersebut tercermin dari tipisnya volume dan frekuensi perdagangan SUN. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa pelaku pasar masih wait and see dalam menyikapi volatilitas yang terjadi pada pasar keuangan global. Volume transaksi Obligasi Negara yang dilaporkan melalui sistem OTC-FIS (Over the Counter Fixed Income Trading System) dan PLTO (Penerima Laporan Transaksi Obligasi) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 937,84 triliun selama periode Januari hingga Desember tahun 2008. Nilai transaksi tersebut mengalami penurunan sebesar 24,70% dibandingkan dengan transaksi SUN selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 1.245,51 triliun. Rata-rata transaksi Obligasi Negara per hari selama tahun 2008 sebesar Rp 3.843,62 miliar (244 hari), sedangkan selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 5.063,06 miliar (246 hari).

Di lain pihak, nilai nominal Obligasi Korporasi yang tercatat dan dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia per 30 Desember 2008 dalam denominasi Rupiah sebesar Rp 72,98 triliun. Volume transaksi Obligasi Korporasi berdenominasi Rupiah yang dilaporkan melalui sistem OTC-FIS (Over the Counter Fixed Income Trading System) dan PLTO (Penerima Laporan Transaksi Obligasi) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 53,72 triliun selama periode Januari hingga Desember 2008. Nilai transaksi tersebut mengalami penurunan sebesar 22,83% dibandingkan dengan transaksi Obligasi Korporasi selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 69,61 triliun. Rata-rata transaksi Obligasi Korporasi berdenominasi Rupiah per hari selama tahun 2008 sebesar Rp 220,17 miliar (244 hari), sedangkan selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 282,98 miliar (246 hari).

Dalam Triliun Rupiah Dec-07 Jan-08 Feb-08 Mar-08 Apr-08 May-08 Jun-08 Jul-08 Aug-08 Sep-08 Oct-08 Nov-08 Dec-08 Porsi
Bank   268,65   266,74   267,91   273,12   267,57   271,16   272,18   266,64    263,54    261,04   274,13   265,00   258,75 49,22%
Bank BUMN Rekap    154,67    152,13    150,63    155,22    149,12    148,59    153,69    148,58     145,07     146,08     144,90    145,13    144,72 27,53%
Bank Swasta Rekap       72,63      70,15      72,48      73,15      72,74      73,21      73,00      72,26       67,68       65,58      67,84      67,54      61,67 11,73%
Bank Non Rekap      35,37      38,65      38,46      38,40      39,14      42,79      38,63      39,00       42,90       42,02      53,09      44,34      45,17 8,59%
BPD        5,97        5,80        6,35        6,34        6,57        6,57        6,85        6,80        7,17         6,64        7,57        7,25       6,50 1,24%
Bank Syariah           -             -             -             -             -             -             -             -          0,73         0,73        0,73        0,73       0,69 0,13%
Bank Indonesia      14,86      14,86      14,86      14,87      14,86      15,30      16,04      16,04       17,75       21,93      18,08      25,62      23,01 4,38%
Departemen Keuangan           -             -             -             -             -             -             -             -             -              -             -             -            -   0,00%
Non Bank   194,24   194,46   200,18   210,41   216,96   225,22   232,01   244,01    257,69    258,72   249,49   243,84   243,93 46,40%
Reksadana      26,33      25,69      27,19      27,69      29,02      29,91      30,98      35,15       35,77       35,18      34,64      33,54      33,11 6,30%
Asuransi      43,47      43,44      43,27      44,47      45,00      45,58      47,40      49,51       52,78       53,09      54,41      55,60      55,83 10,62%
Asing      78,16      79,07      83,38      80,74      86,19      91,66      94,10    100,01     106,98     105,49      92,81      86,42      87,61 16,67%
Dana Pensiun      25,50      25,68      25,93      26,41      27,12      27,62      28,55      29,16       30,04       30,40      32,49      33,15      32,98 6,27%
Sekuritas        0,28        0,57        0,87        0,64        0,90        1,07        0,78        0,37        0,56         0,71        0,60        0,67       0,53 0,10%
Lain - Lain      20,50      20,01      19,53      30,47      28,73      29,39      30,21      29,81       31,56       33,86      34,54      34,47      33,87 6,44%
Total   477,75   476,05   482,95   498,40   499,40   511,68   520,23   526,68    538,99    541,70   541,70   534,46   525,69 100,00%

Sumber: Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Depkeu 

Nilai Surat Utang Negara (SUN) pada posisi per akhir Desember 2008 sebesar Rp 525,69 triliun, atau meningkat sebesar 10,03% yoy dibandingkan dengan posisi per akhir Desember 2007 sebesar Rp 477,75 triliun. Penempatan terbesar per akhir Desember 2008 terdapat pada sektor perbankan yang mencapai Rp 258,79 triliun (merupakan 49,23% dari total) yang cenderung bergerak fluktuatif selama tahun 2008, dimana Bank BUMN Rekap melakukan penempatan dana sebesar Rp 144,72 triliun (27,53%), diikuti oleh Bank Swasta Rekap sebesar Rp 61,67 triliun (11,73%). Penempatan pada non perbankan per 30 Desember 2008 mencapai Rp 243,93 triliun (merupakan 46,40% dari total), atau cenderung menunjukkan peningkatan dari periode akhir Desember 2007 sebesar Rp 194,24 triliun. Porsi kepemilikan asing terhadap SUN menunjukkan tren peningkatan dari akhir Desember 2007 sebesar Rp 78,16 triliun menjadi Rp 105,49 triliun per akhir September 2008, namun kembali menurun selama periode Oktober 2008 sebesar Rp 92,81 triliun menjadi Rp 87,61 triliun pada akhir Desember 2008 (16,67% dari total). Penurunan porsi asing pada Triwulan IV tahun 2008 tersebut terutama disebabkan oleh sikap investor dunia yang menjadi risk averse dan mengalihkan investasinya pada tempat yang dianggap paling aman, yaitu Treasury Bills US. Gejolak pasar keuangan global yang dipicu krisis pasar kredit di AS terus menekan dan menimbulkan pesimisme pelaku pasar secara global. Investasi di Emerging Market (termasuk Indonesia) dianggap beresiko tinggi akibat terjadinya krisis keuangan global tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bloomberg, kurva tingkat imbal hasil Obligasi Pemerintah selama tahun 2008 secara umum terlihat mengalami peningkatan (dengan kata lain selama periode tersebut terdapat penurunan harga pasar Obligasi Pemerintah).Penurunan kinerja Obligasi Pemerintah pada tahun 2008 lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Gejolak pasar keuangan global yang mengarah pada pengetatan likuiditas secara global dan proses deleveraging menyebabkan yield Obligasi Pemerintah untuk seluruh tenor terus naik. Kondisi yield Obligasi Pemerintah juga terus tertekan searah dengan terjadinya pelemahan nilai tukar serta kenaikan risiko emerging market.Meningkatnya yield Obligasi Pemerintah secara signifikan menyebabkan Pemerintah tidak melakukan penerbitan SUN selama Triwulan IV tahun 2008. Pemerintah juga membatalkan penerbitan sukuk (SBSN) global kepada Islamic Development Bank pada akhir tahun 2008.

Yield Obligasi Pemerintah jangka pendek hingga menengah per tanggal 31 Desember 2008 berkisar antara 11,27% hingga 11,80%, sedangkan untuk obligasi jangka panjang memiliki tingkat yield yang antara 11,83% hingga 12,22%. Di lain pihak, Yield Obligasi Pemerintah jangka pendek hingga menengah per tanggal 31 Desember 2007 berkisar antara 7,75% hingga 9,21%, sedangkan untuk obligasi jangka panjang memiliki tingkat yield yang antara 9,58% hingga 10,67%.

Posted in Pasar Utang | No Comments »

Overview Makro Ekonomi Januari - Desember 2008

January 14th, 2009 by arinamse

Perekonomian Indonesia tahun 2008 secara umum mencatat perkembangan yang baik di tengah terjadinya gejolak eksternal. Namun sejak Triwulan IV tahun 2008, gejolak keuangan global telah menyebabkan tekanan pada perekonomian Indonesia. Melemahnya ekspor, tekanan pada Neraca Pembayaran Indonesia dan gejolak di pasar uang, telah menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di pasar keuangan, kondisi likuiditas keuangan global ketat dan pada waktu bersamaan persepsi risiko terhadap negara emerging markets semakin meningkat.

I. 1. Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar

Perlambatan ekonomi yang dialami negara maju (G3) akibat ketatnya likuiditas serta jatuhnya penyaluran kredit berdampak luas terhadap ekonomi regional. Penurunan ekspor, seiring dengan melambatnya permintaan ekspor dari negara maju yang mengalami resesi, mendorong memburuknya prospek neraca pembayaran Indonesia. Sementara itu, berlanjutnya krisis di sektor keuangan AS hingga mengenai sektor otomotif memicu terjadinya capital flight sejalan dengan risk aversion investor asing. Hal tersebut berdampak pada pembalikan dana asing dari aset negara regional sehingga menyebabkan mata uang regional mengalami tekanan depresiasi. Daya tahan fundamental domestik yang masih kondusif ditambah dengan stance kebijakan moneter ketat dan stabilisasi di pasar valas oleh Bank Indonesia mampu menahan tekanan depresiasi rupiah yang lebih besar.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia per tanggal 31 Desember 2008 sebesar Rp 10.950/US$ atau melemah sebesar 16,25% yoy dibandingkan dengan posisi kurs per tanggal 28 Desember 2007 sebesar Rp 9.419/US$. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar tersebut terutama terjadi pada Triwulan IV tahun 2008, terkait dengan arus modal keluarbaik melalui pasar saham, SBI dan obligasi negara. Meningkatnya intensitas krisis pasar keuangan global sejak September 2008 yang dipicu oleh bangkrutnya perusahaan Lehman Brothers, menimbulkan tekanan terhadap nilai rupiah. Permintaan US Dollar meningkat terkait dengan preferensi investor memegang cash dengan menjual investasi di negara berkembang seperti Indonesia yang dianggap berisiko. Indonesia dianggap investor dunia yang paling menderita akibat krisis global, sehingga baik Currency Default Swap maupun Nilai Tukar Rupiah sangat terpuruk. Namun demikian, kebijakan makroekonomi yang berhati-hati disertai langkah stabilisasi nilai tukar di pasar secara umum dapat meminimalkan tekanan yang berlebihan akibat perkembangan eksternal tersebut.

Cadangan devisa Indonesia menunjukkan peningkatan secara bertahap, dari US$ 56,920.00 juta per akhir Desember 2007 menjadi US$ 60,563.00 juta per akhir Juli 2008, yang kemudian mengalami penurunan hingga menjadi US$ 57,108.00 juta per akhir September 2008 (setara dengan 4,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah). Namun selama Triwulan IV tahun 2008, cadangan devisa menurun secara drastis per akhir Oktober 2008 sebesar US$ 50,580.00 juta hingga akhir Desember 2008 sebesar US$ 51,639.32 juta. Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan Giro Bank di Bank Indonesia terkait dengan diterapkannya Ketentuan Giro Wajib Minimum yang baru, yaitu Peraturan BI No. 10/19/PBI/2008 tanggal 14 Oktober 2008.

I. 2. Tingkat Inflasi

Mulai tanggal 1 Juli 2008, penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Juni 2008 menggunakan tahun dasar 2007 = 100 (sebelumnya 2002 = 100) yang didasarkan pada hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2007. Cakupan kota bertambah dari 45 menjadi 66 kota, sedangkan paket komoditas naik dari 744 pada tahun 2002 menjadi 774 tahun 2007. Bobot komoditas makanan turun dari 43,38 persen menjadi 36,12 persen. Dengan diberlakukannya IHK 2007=100, maka mulai 1 Juli 2008 penghitungan inflasi dengan IHK 2002 = 100 tidak lagi dilanjutkan.

Pada bulan Desember 2008, telah terjadi deflasi sebesar 0,04%, dimana penurunan harga ditunjukkan oleh penurunan indeks pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,74% mom, sedangkan kelompok lainnya mengalami kenaikan indeks sebagai berikut: kelompok sandang 1,13% mom, kelompok bahan makanan 0,57% mom, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 0,52% mom, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,52% mom, kelompok kesehatan 0,21% mom, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,16% mom.Beberapa komoditas yang mengalami penurunan hargaselama bulan Desember 2008 antara  lain: bensin, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, kelapa, minyak goreng, besi beton dan solar.

Laju inflasi tahun kalender (Januari – Desember 2008) sama dengan laju inflasi year on year (Desember 2008 terhadap Desember 2007) sebesar 11,06%. Inflasi selama periode Januari hingga Desember 2008 tersebut terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok barang dan jasa sebagai berikut: kelompok bahan makanan 16,35% yoy, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 12,53% yoy, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 10,92% yoy, kelompok kesehatan 7,96% yoy, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 7,49% yoy, kelompok sandang 7,33% yoy, serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 6,66% yoy.Tingkat inflasi selama tahun 2008 sebesar 11,06% lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi selama periode yang sama tahun 2007 sebesar 6,59%.

Kebijakan moneter pada tahun 2008 diarahkan untuk menurunkan tekanan inflasi yang didorong oleh tingginya permintaan agregat terutama pada paruh pertama tahun 2008 dan dampak lanjutan (second round effect) dari kenaikan harga BBM yang mendorong inflasi sempat mencapai 12,1%. Tingginya tekanan inflasi yang bersumber dari permintaan agregat tercermin juga dari defisit transaksi berjalan sejak Triwulan II tahun 2008 akibat melonjaknya impor, serta meningkatnya jumlah uang beredar, terutama M1.

I. 3. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

Sepanjang tahun 2008, BI Rate menunjukkan kestabilan dari awal Januari hingga awal April 2008 pada level 8,00%, serta kemudian meningkat secara bertahap hingga akhirnya menjadi 9,50% pada tanggal 7 Oktober dan 6 November 2008, untuk mengantisipasi berlanjutnya tekanan inflasi. Dengan kebijakan moneter tersebut, ekspektasi inflasi masyarakat tidak terakselerasi lebih lanjut dan tekanan neraca pembayaran dapat dikurangi.  Selanjutnya, dengan turunnya harga komoditi dunia serta melambatnya permintaan agregat sebagai imbas dari krisis keuangan global, Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi ke depan menurun sehingga BI Rate per tanggal 4 Desember 2008 diturunkan sebesar 25 bps menjadi sebesar 9,25%.Berdasarkan analisa Danareksa, terdapat korelasi yang kuat antara tingkat BI Rate dengan pertumbuhan ekonomi, dimana pada tingkat tertentu BI Rate yang tinggi akan menurunkan/menghambat laju pertumbuhan ekonomi.

Pada saat yang bersamaan, suku bunga US Federal Fund Rate terlihat menurun dari awal tahun 2008 sebesar 4,25% hingga akhir April 2008 sebesar 2% dan terus bertahan hingga awal Oktober 2008. Hal ini merupakan upaya The Fed dalam mencegah dampak buruk krisis ekonomi yang meluas walaupun inflasi di Amerika sendiri menunjukkan peningkatan akibat peningkatan harga energi dan komoditas di pasar internasional. Kehancuran pasar finansial semakin bertambah secara signifikan dengan dampak terhadap pasar tenaga kerja yang semakin melemah. Pertumbuhan ekonomi di US mengalami perlambatan, yang antara lain ditunjukkan oleh menurunnya pengeluaran konsumsi domestik. Fed Rate terus mengalami penurunan hingga level antara 0% - 0,25% per tanggal 16 Desember 2008. Secara keseluruhan, aktivitas ekonomi semakin melemah. Dalam masa mendatang, Komite Fed Fund akan mendukung fungsi pasar keuangan dan mendorong ekonomi melalui operasi pasar terbuka guna mempertahankan neraca keuangan Federal Reserve pada level yang cukup tinggi.

I. 4. Indeks Harga Saham Gabungan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai dengan Desember 2008 masih menunjukkan fluktuasi yang tinggi dan ditutup pada level 1.355,41 atau telah turun 50,64% dibandingkan awal tahun 2008. Penurunan IHSG ini akibat imbas dari krisis ekonomi global yang juga mempengaruhi bursa – bursa saham dunia.

Posted in Makro Ekonomi | No Comments »

Weekend on Jan 10 - 11, 2009

January 12th, 2009 by arinamse

This weekend, ada acara Lansia alias Perkumpulan Lanjut Usia “Cinta Damai” para orang tua di Komplek-ku yang kebetulan diselenggarakan di rumahku. Acara sebulan sekali para pensiunan (mostly bapak2) meliputi pemeriksaan tekanan darah (biar sehat), nyanyi2 maupun ngobrol ngalur ngidul (about life hehehe).

Jumat malam aku pulang ke rumah, eh isi di bagian tengah rumah sudah hampir kosong karena kasur yang semula ada di depan TV sudah diangkut ke dalam kamar nyokap dan kamar kakakku. Wuihhh… berasa seperti mau ada hajatan apa gitu (hihihihihi ngarep….). Sound system sudah terpasang dan sedang dicoba menyetel tinggi rendahnya suara. Pokoke cukup heboh lah karena tamu yang akan datang sekitar 40 orang. Kursi2 sewaan sudah siap di luar rumah karena rencananya tamu2 bakal duduk di dalam rumah dan di teras. Mamaku tersayang sudah heboh mengeluarkan piring2 dan gelas. Sementara di sisi lain, Sena-ku tercinta sibuk lari ke sana kemari saking senangnya melihat rumah yang semakin luas untuk berlari-larian.

Hari Sabtu-nya, papa dan mamanya Sena harus ke dokter di Jakarta. Alhasil, akulah yg harus mengurus dan menemani Sena selama acara berlangsung. Untungnya, acara hanya akan berjalan selama 2 jam, dari jam 10 sampai jam 12 siang (paling lambat jam 1-lah). Selama 2 jam itu, aku terjebak di dalam kamar bersama Sena (hikksss… hikkksss… nasib baby sitter gratisan again). Awalnya Sena asyik main gula, dipindah ke gelas yang satu ke gelas yang lain. Pasrah deh aku melihatnya karena dia marah kalau gulanya diambil. Ya sudah, biarkan sajalah dia bermain sepuasnya meskipun berdampak pada seprai yang berantakan. Untung di kamar papaku ada tisu basah buat nge-lap seprai. Setelah bosan dengan gula2nya, dia ganti bermain yang lain. Mainan yang ada dalam keranjang, yang memang sengaja disiapkan supaya Sena sibuk, ditumpahkan ke atas kasur. Waaaaa!!!!! Daripada sumpek liat seprai yang lengket oleh gula, kuambil saja seprainya dan kubiarkan kasur tanpa seprai. Namun untungnya lagi, di pojok kamar ada seprai yang telah disetrika tapi belum sempat dimasukkan ke lemari. Jadi seprai baru itu aku pasang di atas kasur pelan2 karena mainan Sena masih berantakan tersebar di atasnya.

Sejam aku dalam kamar berdua dengan Sena, 2 ponakanku lainnya (Rainy dan Raisa) datang. Bagus deh, aku bisa membiarkan mereka bermain sambil santai namun tetap mengawasi mereka. Setelah acara Lansia selesai, akhirnya aku bisa bebas merdeka keluar dari kamar. Tapi tetap saja aku sibuk mengawasi Sena yang juga merasa bebas berlarian padahal kan banyak piring dan gelas yang belum dibereskan. Duh Senaaaaaaa, anakku… (maunya hehehe) cintaku…. Anak seusianya memang sedang sulit2nya dikasih tahu. Seng sabar…

Sena-ku memang kadang lucu, kadang ngeselin. Kalau lagi insap, dia mau saja aku cium dan peluk, tapi kalau lagi cuek, wah aku diusir pergi deh, terutama kalau sedang ada papa-nya. Mereka memang dekat sekali, sampai2 papanya ga boleh pipis, ga boleh makan, ga boleh kemana2. Duh, kalau Sena sudah panggil papanya, seperti seseorang yang memanggil kekasihnya, mesraaaaa banget. Bagus sih, karena setahuku agak jarang ya anak lelaki mau sedekat itu dengan papanya, sampai2 mamanya pun kadang dicuekin. Mama Sena hanya dicari kalau Sena mau bobo. Mungkin ini akibat papa dan mama Sena yang sempat terpisah antara Jakarta - Balikpapan selama beberapa tahun (sampai Sena berumur 2 tahun kurang).

Posted in Kehidupan | No Comments »

Holiday on Dec 26 - 29, 2008

January 6th, 2009 by arinamse

Libur panjang euy!!! Libur panjang!!!! Liburan kali ini aku ada acara ke Bandung dalam rangka menemani kakak ku yang akan mengikuti seminar Parenting tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik pada tanggal 27 - 28 Desember 2008 di Gedung Pos Bandung (itu loh gedung yang di dalamnya ada Factory Outlet Stamp). Yang mau ikut seminar itu sih kakak ku dan suaminya, sedangkan aku dan ibuku bertugas menjadi anaknya, Sena, yg sekarang berumur 2 tahun 3 bulan. Oh, nasib jadi baby sitter gratisan hihihihihihi.

Jadi ceritanya, kami berangkat tanggal 26 Desember 2008 malam. Ada salah paham pula. Semula kakakku tersayang berencana untuk booking kamar di Hotel Luxton Dago, hotel baru yang sedang ada promosi 50% dengan kartu Mandiri. Kebayang kan, sudah pasti nyaman dong kamarnya, hotel baru gitu loh! Tapi kemudian ada perubahan rencana karena kakak iparku (si Abang) ga jelas apakah bisa ikut pergi ke Bandung atau ga. So, rencana sempat berubah, yang pergi ke Bandung jadinya cuman akyu dan kakakku. Secara kita bakalan pergi berdua aja (tanpa anak kecil ituuuuu), jadi carinya hotel yang murah2 ajah lah. Dapatlah hotel melati. Tapi terus kupikir rencana berubah ke rencana awal, kakakku jadi booking hotel Luxton karena ternyata mendekati hari H keberangkatan, Abang ga dinas ke luar kota dan kalau Abang ikut sudah pasti Sena juga ikut. Jadi akyu tenang2 aja dong karena kupikir bakalan nginep di hotel yang representatip lah. Eh, tahu2 pas jam H keberangkatan, udah mulai jalan nih masuk tol Jagorawi (kan mau lewat Tol Cipularang), aku baru tahu kalau ternyata kakakkku membatalkan booking di hotel Luxton dan menetapkan pilihan di hotel Melati itu karena dia takut kalau Abang batal pergi ke Bandung. Waduuuhhhhhh….. salah persepsi nih semuanya.

Namun, aku sebagai tante yang baik hati dan berkeinginan kuat (ceileeee) berusaha sekuat tenaga untuk telpon sana sini, cari info di internet lewat ponsel Abang, tanya temen kos yang orang Bandung tea, apakah ada kamar kosong di hotel yang lebih bagusan. Tapi tanpa perlu ramalan yang sah dari paranormal, semua orang juga tahu kalau libur Natal yang disambung dengan libur Tahun Baru, itu kamar2 pasti pada penuuuhhhhhh. Kalaupun ada yg kosong, hanya ada 1 hari saja yg available, kayaknya kecil kemungkinannya deh kita bakal pindah2 hotel dan nenteng2 bawaaan yang seabreg-abreg itu (ada anak kecil udah pasti bawaannya juga banyak lah). Ada juga yang masih kosong tapi harganya muahhhaaaaalll buanget karena kamarnya suite, kalau ga salah sekitar 7 jutaan ya. Halah!!! Ga salah tuh.

Akhirnya, aku pasrah aja deh, dengan si hotel Melati ini. Namanya Hotel Sanira (aku lupa nama jalannya, pokoknya dekat Yoghurt Cisangkuy dan Taman Lansia). Ternyata aku tuh pernah menginap di hotel itu sewaktu dulu bersama sahabatku jalan2 ke Bandung, beberapa bulan lalu. Hotel Sanira tuh ga jelek2 banget kok, cukup bersih, kekeluargaan (sampai2 mamaku tercinta bisa numpang bikin nasi goreng buat Sena di dapur hotel). Kami dapat 2 kamar di depan, dekat resepsionis dan cukup lega. Tarif hotel per malam sekitar Rp 250.000, itupun sudah naik karena pas weekend dan libur panjang. Untuk para traveler yang ingin tarif hotel melati murah meriah, bisa dicoba tuh karena lokasinya cukup dekat dengan pusat kota yaitu Gedung Sate dan Gazebo.

Nah, selagi kakakku mengikuti seminar Parenting, aku mengisi waktu dengan jalan2 ke Kebun Strawberry (namanya Vin’s) arah Lembang, beli tanaman di Jalan Bajuri (kalau ga salah itu nama jalannya). Secara aku kan harus mengurus ponakanku yang so sweet dan bikin aku jengkel-jengkel gemes gitu loh kalau dia lagi rewel, jadi aku berusaha memberikan liburan yang bisa bikin dia melihat pemandangan alam lainnya. Kemacetan Bandung pada saat libur panjang itu memberikan keuntungan buatku karena sepanjang perjalanan menuju arah Lembang, Sena tertidur pulas di mobil. Wuihhh, kalau di hotel susahnya menyuruh dia untuk tidur siang. Maunya mainnnnn aja padahal matanya udah mengantuk.

Oh iya, mengenai seminar Parenting itu, cukup bagus lho. Intisari yang aku dapatkan dari cerita kakakku antara lain kami jadi mengerti mengapa anak umur 2 tahun senang mengatakan TIDAK. Sena banget tuh!! Ternyata alasannya karena anak umur 2 tahun heran kenapa waktu bayi semua hal yg mereka inginkan selalu dituruti oleh orang dewasa, sedangkan ketika mereka beranjak lebih dewasa lagi ada hal2 yang dilarang oleh orang tua. Misalnya, dulu saya boleh pegang gelas, kenapa sekarang ga boleh. Selain itu, anak umur 2 tahun ingin menunjukkan bahwa mereka ingin berbeda dengan orang dewasa. Jadi kalau misalnya kita tanya, nak mau makan ga. Mereka akan bilang ga mau dan melihat reaksi kita terhadap mereka.

Lalu ada juga cara berbicara dengan anak2, misalnya saat mereka belajar memilih buah apel yang ternyata busuk dan mereka keukeuh supaya buah apel itu tetap dibeli. Kita bisa memberikan pengertian dengan menerangkan dampak kalau kita makan buah apel yang bagus dan buah apel yang busuk. Terus kalau anak rewel, kadang kan kita suka ingin langsung memarahinya. Padahal seharusnya kita belajar memahami perasaan mereka, kenapa mereka rewel. Banyak input yang cukup bagus untuk kita. Seminar selanjutnya akan dilaksanakan di Jakarta tanggal 17-18 Januari 2009. Kakakku bersikeras mendaftarkan aku dan ibuku untuk ikut seminar itu supaya wawasan kami lebih luas. Yah, pasrahhhh dehhhh hehehehehe.

Posted in Kehidupan | No Comments »