Blogroll

Search

Overview Sektor Energi Tahun 2008

December 21st, 2008 by arinamse

Dari awal tahun 2000 hingga Semester I tahun 2008, sektor listrik mengalami pertumbuhan CAGR sebesar 5,3% yoy sedangkan GDP sebesar 4% (Sumber: IndoPremier Securities). Hal ini menunjukkan pentingnya peran sektor listrik dalam mendukung pertumbuhan perekonomian baik dari segmen retail / perumahan perorangan, komersial seperti kantor maupun industri. Berdasarkan data dari CEIC, konsumsi listrik nasional memiliki tingkat pertumbuhan rata-rata CAGR sebesar 6,1%. Kontribusi konsumsi listrik terbesar berasal dari sektor perumahan (household) sebesar 39% mencapai total 46,9 juta Mwh pada tahun 2007 dengan CAGR sebesar 6,3%. Posisi kedua ditempati oleh sektor industri sebesar 38% mencapai 45,4 juta Mwh pada tahun 2007 dengan CAGR sebesar 4,2%. Untuk sektor bisnis berkontribusi sebesar 16% dengan CAGR mencapai 9,28%.

 

Jumlah pelanggan listrik terbesar adalah untuk rumah tangga mencapai sekitar 90% dari total pelanggan listrik nasional atau sekitar 34 juta pelanggan. Untuk golongan usaha atau bisnis mencapai sekitar 4,6% atau 1,7 juta pelanggan dan industri hanya sekitar 47 ribu pelanggan. Begitu pula halnya dengan daya listrik yang tersambung tertinggi dimiliki golongan rumah tangga yang mencapai sekitar 26.100 MVA atau 49% dari total daya yang tersambung nasional. Posisi kedua ditempati oleh golongan industri dengan total 13.300 MVA atau 24% dari total daya tersambung nasional.

 

Paska krisis keuangan 1997, investasi industri listrik di Indonesia cenderung rendah dengan pertumbuhan rata-rata pada tahun 2000 – 2004 hanya sebesar 0,84%. Pertumbuhan yang cukup besar terjadi pada tahun 2006 dengan tingkat pertumbuhan kapasitas terpasang sebesar 10,35%. Kapasitas terpasang pada tahun 2007 sebesar 25.223,48MW, dengan panjang jaringan transmisi 33.162,87km. Rata-rata pertumbuhan kapasitas terpasang 2000-2007 sebesar 2,63% (Sumber: Trimegah Securities). Peningkatan kapasitas terpasang diperlukan untuk mengantisipasi peningkatan permintaan listrik.

Kebutuhan listrik nasional sampai dengan tahun 2015 diperkirakan tumbuh rata-rata sebesar 8,5%. Penjualan energi listrik akan meningkat dari 107 TWh pada tahun 2005 menjadi 239 TWh pada tahun 2015. Untuk memenuhi kenaikan penjualan tersebut diperlukan penambahan pasokan listrik sampai dengan tahun 2015 sebesar 34 GW sehingga dengan memperhitungkan pembangkit lama yang akan retired maka proyeksi kapasitas kapasitas terpasang pembangkit akan mencapai 60 GW pada tahun 2015 (Sumber: PLN). Selain itu, dibutuhkan tambahan kapasitas Gardu Induk sebanyak 17.954 MVA dan jaringan transmisi sepanjang 20.874 km serta jaringan distribusi untuk menyalurkan energi listrik sampai ke konsumen. Pada tahun 2015, Pemerintah menargetkan sekitar 76% kebutuhan listrik rumah tangga dapat terpenuhi, namun pada saat ini baru mencapai 60,78%.

Posted in Makro Ekonomi |



Leave a Reply