Kondisi Sektor Pasar Utang Januari - Pertengahan Oktober 2008
November 10th, 2008 by arinamseKekhawatiran akan terjadinya resesi akibat krisis kredit global menjadi faktor yang sangat berpengaruh pada pasar obligasi dalam negeri. Namun demikian, Pemerintah di dunia telah mengambil beberapa langkah yang dianggap perlu untuk menenangkan situasi pasar, antara lain:
- Disetujuinya rencana bailout pemerintah AS senilai US$ 700 miliar
- Pemangkasan tingkat suku bunga oleh bank-bank sentral di dunia
- Bank Sentral di dunia membantu institusi keuangan dengan dana tak terbatas
- Pemerintah AS dan Eropa menjamin pinjaman bank dan membeli saham perbankan.
Dengan adanya berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah di dunia, pasar obligasi diharapkan cenderung bergerak positif namun kekhawatiran dari pihak investor masih tetap ada.
Dari sisi domestik, pergerakan yield obligasi juga dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah yang menembus level Rp 9.800/US$. Laju inflasi yang mengalami peningkatan berpengaruh terhadap ekspektasi tingkat imbal hasil obligasi yang juga semakin tinggi. Begitu pula dengan ketatnta likuiditas antar bank yang terlihat dari tingginya JIBOR overnight dibandingkan dengan BI Rate. Untuk itu, Pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa langkah untuk mengamankan kondisi pasar utang:
-
Bank Indonesia menyediakan fasilitas likuiditas kepada perbankan yang membutuhkan dana melalui operasi pasar terbuka
-
Intervensi oleh Bank Indonesia untuk memperkuat nilai tukar Rupiah
-
Pemerintah menaikkan nilai simpanan tertinggi yang dijamin LPS dari semula Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar
-
Pemerintah mengeluarkan keputusan untuk tidak menerbitkan SUN lagi hingga akhir tahun 2008 dan merevisi total nett penerbitan SBN tahun 2009 menjadi Rp 54,7 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 103,5 triliun
-
Menerbitkan Perpu No. 4/2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan.
Nilai nominal Surat Utang Negara yang tercatat dan dapat diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan tanggal 30 September 2008 sebesar Rp 541,70 triliun (termasuk Obligasi Negara Ritel dan Surat Perbendaharaan Negara). Volume transaksi SUN yang dilaporkan melalui sistem Centralized Trading Platform (CTP) Bursa Efek Indonesia sebesar Rp 775,70 triliun selama periode Januari hingga September tahun 2008. Nilai transaksi tersebut mengalami penurunan sebesar 19,76% dibandingkan dengan transaksi SUN selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 966,72 triliun. Rata-rata transaksi SUN per hari selama 9 bulan pertama tahun 2008 sebesar Rp 4.192,98 miliar (185 hari), sedangkan selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 5.142,15 miliar (188 hari).
Di lain pihak, nilai nominal Obligasi Korporasi yang tercatat dan dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia per 30 September 2008 dalam denominasi Rupiah sebesar Rp 77,89 triliun. Volume transaksi Obligasi Korporasi berdenominasi Rupiah yang dilaporkan melalui sistem Centralized Trading Platform (CTP) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 43,55 triliun selama periode Januari hingga September 2008. Nilai transaksi tersebut mengalami penurunan sebesar 21,12% dibandingkan dengan transaksi Obligasi Korporasi selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 55,21 triliun. Rata-rata transaksi Obligasi Korporasi berdenominasi Rupiah per hari selama 9 bulan pertama tahun 2008 sebesar Rp 235,42 miliar (185 hari), sedangkan selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 293,69 miliar (188 hari).
Nilai Surat Utang Negara (SUN) pada posisi per tanggal 15 Oktober 2008 sebesar Rp 541,70 triliun, atau meningkat sebesar 13,39% ytd dibandingkan dengan posisi per akhir Desember 2007 sebesar Rp 477,75 triliun. Penempatan terbesar terdapat pada sektor perbankan yang mencapai Rp 270,67 triliun (merupakan 49,97% dari total) yang cenderung bergerak fluktuatif selama periode tersebut. Di tengah kondisi perekonomian yang tumbuh pesat, sektor perbankan berpandangan bahwa potensi keuntungan dari penyaluran kredit masih lebih baik daripada berinvestasi pada instrumen SUN. Namun hal ini bukan berarti daya serap perbankan terhadap SUN menjadi berkurang. Sektor perbankan masih dapat menyerap SUN apabila imbal hasilnya dianggap menarik.
Penempatan pada non perbankan mencapai Rp 252,33 triliun (merupakan 46,58% dari total), atau cenderung menunjukkan peningkatan dari periode akhir Desember 2007 sebesar Rp 194,24 triliun. Meskipun krisis keuangan global telah meyebabkan penurunan minat investor asing pada pasar saham Indonesia, namun porsi kepemilikan asing terhadap SUN menunjukkan tren peningkatan dari akhir Desember 2007 sebesar Rp 78,16 triliun menjadi Rp 105,49 triliun per akhir September 2008, meski sedikit menurun pada pertengahan Oktober 2008 menjadi sebesar Rp 98,96 triliun (18,27% dari total). Meningkatnya nilai investasi tersebut terutama disebabkan oleh prospek keuntungan pada instrumen SUN yang dinilai cukup baik.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Bloomberg, kurva tingkat imbal hasil Obligasi Pemerintah per tanggal 15 Oktober 2008 secara umum terlihat mengalami peningkatan dibandingkan dengan posisi per 30 Juni 2008 (dengan kata lain selama periode tersebut terdapat penurunan harga pasar Obligasi Pemerintah). Kekhawatiran terhadap resesi global bukan merupakan satu-satunya pendorong pada pergerakan harga obligasi, melainkan juga pengetatan likuiditas dan melemahnya nilai tukar akibat intervensi dan dukungan pemerintah secara terus-menerus.
Yield Obligasi Pemerintah jangka pendek hingga menengah per tanggal 15 Oktober 2008 berkisar antara 12,76% hingga 14,03%, sedangkan untuk obligasi jangka panjang memiliki tingkat yield antara 14,06% hingga 15,10%. Di lain pihak, Yield Obligasi Pemerintah jangka pendek hingga menengah per tanggal 30 Juni 2008 berkisar antara 10,42% hingga 13,19%, sedangkan untuk obligasi jangka panjang memiliki tingkat yield yang antara 13,19% hingga 13,93%.
Posted in Pasar Utang |
November 10th, 2008 at 4:41 am
Indikator untuk masuk ke pasar obligasi sekunder
1. Tidak ada penerbitan obligasi swasta
2. Tidak banyak IPO untuk Surat Utang Negara dan ORI
Mengapa mereka tidak melakukan penerbitan obligasi? Karena yield yang diminta Smart investor tinggi
Kesimpulan : Smart Investor untung
Indikator untuk keluar dari pasar obligasi
1. Banyak penerbitan obligasi swasta
2. Banyak sekali IPO untuk Surat Utang Negara
Mengapa mereka melakukan penerbitan obligasi?
Karena yiel yang diminta Dummy investor rendah
Kesimpulan : Dummy Investor rugi
I Believe interest rate anticipation is still the best strategy for active fixed income portofolio, karena sbi tahun depan diperkirakan akan turun jadi saatnya yang tepat untuk masuk ke dalam portofolio trading obligasi sekarang, CMIIW
December 30th, 2008 at 11:35 pm
qTBm3D Thanks for good post