Blogroll

Search

Kondisi Makro Ekonomi Periode Januari - September 2008

November 4th, 2008 by arinamse

Secara makro perekonomian Indonesia saat ini menghadapi masalah tingkat inflasi yang relatif tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, diantaranya akibat kondisi pasar keuangan eksternal yang bergejolak. Ke depannya tantangan akan semakin membesar, namun demikian sampai dengan Triwulan II 2008, laporan Badan Pusat Statistik menyebutkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2007 sebesar 6,3%. Untuk 2008, BI memprediksi perekonomian RI tumbuh 6,2% atau melambat dari perkiraan sebelumnya.

 

Bank Indonesia juga memandang perekonomian Indonesia ke depan masih menghadapi tentangan di tengah ketidakpastian perekonomian global. Dalam pertumbuhan ekonomi RI, permintaan domestik berupa konsumsi rumah tangga dan investasi akan semakin berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. Sementara peranan ekspor akan semakin berkurang sebagai konsekuensi dari kondisi global yang kurang kondusif. Kenaikan GDP yang cukup stabil dari tahun 2000 sangat membantu meningkatkan kepercayaan publik baik di dalam negeri maupun luar negeri walau target Pemerintah tahun 2008 pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% menjadi tantangan besar.

 

a.     Tingkat Inflasi

Walaupun target awal inflasi ada pada kisaran 5%±1% untuk tahun 2008, namun Gubernur BI Boediono menyampaikan bahwa inflasi pada 2008 dapat meningkat pada kisaran 11,5-12,5% (yoy), terlebih dengan adanya kebijakan kenaikan harga BBM oleh Pemerintah di bulan Mei 2008. Untuk itu BI akan memanfaatkan secara optimal seluruh piranti moneter yang ada, baik melalui BI Rate, pengendalian volatilitas nilai tukar, penyerapan ekses likuiditas, optimalisasi Operasi Pasar Terbuka (OPT), maupun kebijakan-kebijakan lainnya. Kecenderungan inflasi tinggi masih dapat dilihat pada bulan September 2008 sebesar 0,97% sehingga laju inflasi tahun kalender (Januari-September) 2008 sebesar 10,47%, sedangkan laju inflasi “year on year” (September 2008 terhadap September 2007) sebesar 12,14%. Dalam jangka pendek tekanan inflasi diperkirakan masih terus terjadi baik yang berasal dari domestik maupun imported inflation namun tekanan karena kenaikan harga BBM oleh Pemerintah di bulan Mei 2008 telah mereda dan ke depannya pada Triwulan IV 2008 tekanan inflasi diperkirakan dapat kembali meningkat terlebih dengan tren pelemahan Rupiah yang masih berlanjut dan masa – masa liburan Natal dan Tahun Baru.

b.     Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar

Nilai tukar Rupiah sempat menguat pada Triwulan I 2008 (dari Rp 9.419,- per USD menjadi Rp 9.217,-/USD), relatif sama pada Triwulan II 2008, maka pada Triwulan III 2008 nilai tukar Rupiah cenderung melemah terhadap USD (dari Rp 9.225,- per USD menjadi Rp 9.378,-/USD). Kondisi yang berfluktuatif ini diperkirakan terus berlangsung sampai dengan akhir tahun 2008. Pada dasarnya gejolak nilai tukar ini didominasi oleh faktor ekstern yang diluar kendali Pemerintah sehingga peran BI untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah menjadi sangat pentingn melalui kebijakan-kebijakan moneternya. Namun demikian peran Pemerintah untuk lebih memperkuat makro ekonomi dapat membantu menstabilkan nilai Rupiah, diantaranya dengan upaya meningkatkan investasi di sektor riil (infrastruktur, industri, pertanian) selain mengurangi angka pengangguran yang saat ini sebesar 10,01 juta orang (Agustus 2007) dan kemiskinan yang saat ini sebanyak 37,2 juta jiwa (Maret 2007). Sementara BI memperkirakan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sampai dengan akhir tahun 2008 diperkirakan akan mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

c.     Suku Bunga SBI

Sepanjang Triwulan III 2008 BI Rate naik tiga kali masing – masing 25 basis poin menjadi 9,25% dilatarbelakangi tekanan inflasi yang semakin kuat. Walaupun kondisi ekonomi global masih dalam masa krisis, kenaikan BI Rate tidak bisa dihindari karena akibat inflasi yang terus melonjak. Namun demikian kenaikan BI Rate yang sedikit demi sedikit diharapkan tidak terlalu membebani kondisi perekonomian secara keseluruhan. Pada saat yang bersamaan Fed Rate tetap pada level 2% dalam upaya The Fed mencegah dampak buruk krisis ekonomi yang meluas walaupun inflasi di Amerika sendiri menunjukkan peningkatan.

d.     Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai dengan September 2008 masih menunjukkan fluktuasi yang tinggi dimana per 30 September 2008 ditutup pada level 1.832,51 atau telah turun 33,26% dibandingkan awal tahun 2008. Sepanjang Triwulan IV 2008 indeks diperkirakan masih mengalami gejolak naik turun yang cukup tinggi dan sangat sulit diprediksi mengingat kondisi keuangan global yang tidak menentu juga sangat mempengaruhi kinerja bursa.

Posted in Makro Ekonomi |



Leave a Reply