Blogroll

Search

Kondisi Sektor Obligasi hingga tanggal 24 November 2008

November 27th, 2008 by arinamse

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bloomberg, kurva tingkat imbal hasil Obligasi Pemerintah untuk posisi per tanggal 21 November 2008 terlihat mengalami peningkatan dibandingkan dengan posisi per tanggal 30 September 2008 untuk semua jenis tenor (dengan kata lain selama periode tersebut terdapat penurunan harga pasar Obligasi Pemerintah). Yield Obligasi Pemerintah jangka pendek hingga menengah per tanggal 21 November 2008 berkisar antara 14,94% hingga 19,02%, sedangkan jangka panjang memiliki tingkat imbal hasil antara 17,11% hingga 19,01%. Di lain pihak, tingkat imbal hasil Obligasi Pemerintah pada posisi per tanggal 30 September 2008 berkisar antara 11,30% hingga 13,00% untuk jangka pendek hingga menengah serta antara 12,91% hingga 13,58% untuk jangka panjang.

Nilai Surat Utang Negara (SUN) pada posisi per tanggal 20 November 2008 sebesar Rp 534,46 triliun, atau menurun sebesar 1,34% dibandingkan dengan posisi per akhir September 2008 sebesar Rp 541,70 triliun. Penempatan terbesar terdapat pada sektor perbankan yang mencapai Rp 267,07 triliun (merupakan 49,97% dari total) meningkat dibandingkan dengan akhir September 2008 sebesar Rp 261,04 triliun. Sebaliknya, penempatan pada non perbankan mencapai Rp 244,26 triliun (merupakan 45,70% dari total), atau menurun dibandingkan dengan periode akhir September 2008 sebesar Rp 258,72 triliun. Porsi kepemilikan asing terhadap SUN terus menunjukkan penurunan dari Rp 105,49 triliun per akhir September 2008 menjadi Rp 88,17 triliun per 20 November 2008 (16,50% dari total).

Selain itu, berdasarkan data dari Bloomberg Obligasi Pemerintah dari beberapa negara yang akan jatuh tempo dalam jangka waktu 10 tahun mendatang diperkirakan akan menghasilkan yield sebagai berikut:


Negara

Q4 08

Q1 09

Q2 09

Q3 09

Q4 09

Indonesia

15,32%

14,39%

13,52%

12,55%

11,46%

Malaysia

4,36%

4,18%

4,02%

4,00%

3,87%

Thailand

4,06%

4,11%

4,13%

4,12%

3,75%

India

7,70%

7,53%

7,36%

7,22%

7,50%

China

3,24%

3,28%

3,29%

3,38%

3,20%

US

3,69%

3,74%

3,80%

3,92%

4,15%

UK

4,01%

3,98%

3,98%

4,23%

4,30%

Jepang

1,39%

1,39%

1,44%

1,54%

1,68%

Sumber: Bloomberg Weighted Average (24 November 2008)

Posted in Pasar Utang | 1 Comment »

Konsi at Hotel Sempur Park, Bogor

November 24th, 2008 by arinamse

Minggu kemarin, Kamis - Sabtu tgl 20 - 22 November 2008, unit kerjaku mengadakan konsinyiring rapat di Hotel Sempur Park, Bogor. Ini salah satu hotel teranyar di kota Bogor. Bangunan 4 lantai berwarna putih yang terletak persis di pinggir lapangan Sempur Bogor. Sayangnya, plang nama hotel tidak bisa langsung dilihat di depan pagar hotel. Temenku ada yg melihat plang tersebut terpasang di sebelah atas dan kurang jelas terlihat. Sebenernya hotel ini belum dibuka secara resmi. Rencana openingnya aja bulan Desember 2008. Masih ada bagian hotel yang sedang dalam tahap renovasi.

Bagusnya sih, letaknya di tengah kota, deket kalau mau kemana2. Dekat dengan Macaroni Panggang (MP) yang terkenal itu, dekat dengan barisan Factory Outlet di Jalan Pajajaran. Dekat juga dengan Kebun Raya Bogor. Untuk kamar2nya, lumayan bagus dan bersih. Kamar mandinya menggunakan shower dengan lantai berwarna hitam seperti batu kali. Free Wi Fi di setiap kamar. Waktu kami menginap kemarin, free of charge untuk akses internet, ga tahu ya kalau sudah grand opening nanti. Bisa saja itu untuk promosi menggaet pengunjung. Kami dapat ruang rapat yang satu lantai dengan kamar tidur. Jadi kalau ada dokumen yang tertinggal di kamar, bisa cepat diambil. Lucunya, di dalam ruang rapat ada toilet yang di dalamnya ada bath tub. Kebayang ga, apa ya fungsi bath tub itu? Kalau pikiran sudah butek dan capek rapat terus, jadi bisa istirahat di bath tub? Hehehe entahlah. Atau bisa jadi semula pihak hotel merencanakan ruang rapat tersebut sebagai kamar Suite tapi tidak jadi karena renovasinya belum selesai, sudah keburu ada tamu hotel. Ga tahu juga deh.

Yang jelas, hotel Sempur Park Bogor ini bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif wisatawan yang ingin berlibur di Bogor. Ayo, sukseskan visit 2008 (sudah hampir akhir tahun ya? hehehe) dan dukunglah pemerintah untuk meningkatkan pendapatan kota Bogor!!!

Posted in Kehidupan | No Comments »

Aku Bukan Untukmu

November 19th, 2008 by arinamse

“Aku menyesal telah membuatmu menangis dan biarkan memilih yang lain. Tapi jangan pernah kau dustai takdirmu, pasti itu terbaik untukmu. Janganlah lagi kau mengingatku kembali, aku bukanlah untukmu. Meski ku memohon dan meminta hatimu, jangan pernah tinggalkan dirinya untuk diriku…”

My Comments:

It sebait lagu yang dinyanyikan Rossa, yang aku ga pernah bosan mendengarnya sampai sekarang. I like the music, the sound of piano. Besides, I felt the same experience before, few years ago, but the case had been closed. We have already had our own life. Sungguh mahal harga yang harus dibayarkan untuk sebuah pengalaman hidup yang mampu mendewasakan kita. But thanks God it was happened for recognizing that he was not the best. Menjalani detik demi detik yang terasa berlalu begitu lambat, membangkitkan semangat dalam diri bahwa hidup bisa terus berjalan, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kegagalan yang bertubi-tubi hingga akhirnya menyadarkan bahwa semua adalah milik Allah. Allah berhak mengambil apa yang Ia inginkan. Apapun yang manusia rencanakan, namun jika Allah berkata TIDAK, maka tidak akan pernah kejadian, sekeras apapun usaha manusia untuk mewujudkannya.

Positifnya juga aku jadi menyempatkan diriku untuk berumroh ke Mekkah, mencurahkan semua kegalauan yang saat itu aku rasakan. Mekkah, Madinah dan semua hal yang ada di sana seolah menarikku untuk kembali ke sana, merasakan kebahagiaan yang tak ternilai, menyerahkan diri pada Illahi. Ambillah apa yang ingin Engkau ambil dan berilah apa yang terbaik untuk diriku. Semoga ada rejeki lagi untuk kembali ke tanah suci, terutama dengan orang tua yang sangat kucintai dan selalu mendukungku dalam situasi apapun. I really love my parents.

Tapi semua ‘cerita’ itu sudah selesai bertahun-tahun yang lalu. Sekarang tentunya semua sudah berbeda dan aku bisa melihat hidup dengan lebih baik, lebih menghargai apa yang aku miliki.

Posted in Music | 1 Comment »

Sebel…

November 17th, 2008 by arinamse

Aku lagi sebel… sebel… sebel… But I’m good, I’m good, I’m good (biarpun kesel tapi kan harus tetap bicara positif hehehe).

I won’t hurt anyone unless they hurt me first. Gitu lah pokoke.

Then I should keep my mouth quiet now. Maksud hati bercanda karena menanggapi teman yang duluan becandain aku, eh malah jadi salah persepsi ke orang lain. Terserah deh.

Mending mikirin hal-hal yang menyenangkan. Sena-kyu yang lucu, kerjaan yang pendiiiiinnnngggggg sampai harus lembur sebulan ini (sekalian cari uang lemburan sih hehehehe, iyalah you mau aku kerja sampai malam ya harus dibayar duonnggg).

Sekarang aku lembur penyusunan Laporan periode Januari - September 2008. Target seharusnya selesai akhir bulan ini, tapi tergantung data-datanya juga apakah sudah semuanya tersedia atau belum. Pas kebetulan ruangan kantor sedang direnovasi, jadi kita harus pindah2 barang ke ruangan sementara. Buku2 dan dokumen2 bertumpukan dimana2, monitor Bloomberg belum terpasang, waduuhhhh….

Posted in Kehidupan | No Comments »

Kondisi Sektor Pasar Utang Januari - Pertengahan Oktober 2008

November 10th, 2008 by arinamse

Kekhawatiran akan terjadinya resesi akibat krisis kredit global menjadi faktor yang sangat berpengaruh pada pasar obligasi dalam negeri. Namun demikian, Pemerintah di dunia telah mengambil beberapa langkah yang dianggap perlu untuk menenangkan situasi pasar, antara lain:

  • Disetujuinya rencana bailout pemerintah AS senilai US$ 700 miliar
  • Pemangkasan tingkat suku bunga oleh bank-bank sentral di dunia
  • Bank Sentral di dunia membantu institusi keuangan dengan dana tak terbatas
  • Pemerintah AS dan Eropa menjamin pinjaman bank dan membeli saham perbankan.

Dengan adanya berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah di dunia, pasar obligasi diharapkan cenderung bergerak positif namun kekhawatiran dari pihak investor masih tetap ada.

 

Dari sisi domestik, pergerakan yield obligasi juga dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar Rupiah yang menembus level Rp 9.800/US$. Laju inflasi yang mengalami peningkatan berpengaruh terhadap ekspektasi tingkat imbal hasil obligasi yang juga semakin tinggi. Begitu pula dengan ketatnta likuiditas antar bank yang terlihat dari tingginya JIBOR overnight dibandingkan dengan BI Rate. Untuk itu, Pemerintah Indonesia telah mengambil beberapa langkah untuk mengamankan kondisi pasar utang:

  • Bank Indonesia menyediakan fasilitas likuiditas kepada perbankan yang membutuhkan dana melalui operasi pasar terbuka
  • Intervensi oleh Bank Indonesia untuk memperkuat nilai tukar Rupiah
  • Pemerintah menaikkan nilai simpanan tertinggi yang dijamin LPS dari semula Rp 100 juta menjadi Rp 2 miliar
  • Pemerintah mengeluarkan keputusan untuk tidak menerbitkan SUN lagi hingga akhir tahun 2008 dan merevisi total nett penerbitan SBN tahun 2009 menjadi Rp 54,7 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 103,5 triliun
  • Menerbitkan Perpu No. 4/2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan.

 

Nilai nominal Surat Utang Negara yang tercatat dan dapat diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan tanggal 30 September 2008 sebesar Rp 541,70 triliun (termasuk Obligasi Negara Ritel dan Surat Perbendaharaan Negara). Volume transaksi SUN yang dilaporkan melalui sistem Centralized Trading Platform (CTP) Bursa Efek Indonesia sebesar Rp 775,70 triliun selama periode Januari hingga September tahun 2008. Nilai transaksi tersebut mengalami penurunan sebesar 19,76% dibandingkan dengan transaksi SUN selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 966,72 triliun. Rata-rata transaksi SUN per hari selama 9 bulan pertama tahun 2008 sebesar Rp 4.192,98 miliar (185 hari), sedangkan selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 5.142,15 miliar (188 hari).

 

Di lain pihak, nilai nominal Obligasi Korporasi yang tercatat dan dapat diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia per 30 September 2008 dalam denominasi Rupiah sebesar Rp 77,89 triliun. Volume transaksi Obligasi Korporasi berdenominasi Rupiah yang dilaporkan melalui sistem Centralized Trading Platform (CTP) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 43,55 triliun selama periode Januari hingga September 2008. Nilai transaksi tersebut mengalami penurunan sebesar 21,12% dibandingkan dengan transaksi Obligasi Korporasi selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 55,21 triliun. Rata-rata transaksi Obligasi Korporasi berdenominasi Rupiah per hari selama 9 bulan pertama tahun 2008 sebesar Rp 235,42 miliar (185 hari), sedangkan selama periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 293,69 miliar (188 hari).

 

Nilai Surat Utang Negara (SUN) pada posisi per tanggal 15 Oktober 2008 sebesar Rp 541,70 triliun, atau meningkat sebesar 13,39% ytd dibandingkan dengan posisi per akhir Desember 2007 sebesar Rp 477,75 triliun. Penempatan terbesar terdapat pada sektor perbankan yang mencapai Rp 270,67 triliun (merupakan 49,97% dari total) yang cenderung bergerak fluktuatif selama periode tersebut. Di tengah kondisi perekonomian yang tumbuh pesat, sektor perbankan berpandangan bahwa potensi keuntungan dari penyaluran kredit masih lebih baik daripada berinvestasi pada instrumen SUN. Namun hal ini bukan berarti daya serap perbankan terhadap SUN menjadi berkurang. Sektor perbankan masih dapat menyerap SUN apabila imbal hasilnya dianggap menarik.

 

Penempatan pada non perbankan mencapai Rp 252,33 triliun (merupakan 46,58% dari total), atau cenderung menunjukkan peningkatan dari periode akhir Desember 2007 sebesar Rp 194,24 triliun. Meskipun krisis keuangan global telah meyebabkan penurunan minat investor asing pada pasar saham Indonesia, namun porsi kepemilikan asing terhadap SUN menunjukkan tren peningkatan dari akhir Desember 2007 sebesar Rp 78,16 triliun menjadi Rp 105,49 triliun per akhir September 2008, meski sedikit menurun pada pertengahan Oktober 2008 menjadi sebesar Rp 98,96 triliun (18,27% dari total). Meningkatnya nilai investasi tersebut terutama disebabkan oleh prospek keuntungan pada instrumen SUN yang dinilai cukup baik.

 

Berdasarkan data yang diperoleh dari Bloomberg, kurva tingkat imbal hasil Obligasi Pemerintah per tanggal 15 Oktober 2008 secara umum terlihat mengalami peningkatan dibandingkan dengan posisi per 30 Juni 2008 (dengan kata lain selama periode tersebut terdapat penurunan harga pasar Obligasi Pemerintah). Kekhawatiran terhadap resesi global bukan merupakan satu-satunya pendorong pada pergerakan harga obligasi, melainkan juga pengetatan likuiditas dan melemahnya nilai tukar akibat intervensi dan dukungan pemerintah secara terus-menerus.

 

Yield Obligasi Pemerintah jangka pendek hingga menengah per tanggal 15 Oktober 2008 berkisar antara 12,76% hingga 14,03%, sedangkan untuk obligasi jangka panjang memiliki tingkat yield antara 14,06% hingga 15,10%. Di lain pihak, Yield Obligasi Pemerintah jangka pendek hingga menengah per tanggal 30 Juni 2008 berkisar antara 10,42% hingga 13,19%, sedangkan untuk obligasi jangka panjang memiliki tingkat yield yang antara 13,19% hingga 13,93%.

Posted in Pasar Utang | 2 Comments »

Overview Sektor Energi Januari - September 2008

November 6th, 2008 by arinamse

Pembangunan sektor ketenagalistrikan memiliki peranan penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi suatu bangsa yang modern. Sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang ketenagalistrikan, yang saat ini menjadi landasan hukum bagi pengembangan industri ketenagalistrikan nasional yang lebih efisien, transparan dan kompetitif, maka peran pembangunan sektor ketenagalistrikan dilaksanakan oleh pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan regulasi. Perusahaan kelistrikan melaksanakan aspek bisnis sektor ketenagalislrikan untuk menciptakan industri tenaga listrik yang berkualitas (mutu), efisien, efektif, memberikan pelayanan prima kepada konsumen dan independen secara finansial, serta meningkatkan partisipasi konsumen dan stakeholder dalam mendukung pelaksanaan bisnis sektor ketenagalistrikan.

 

Kebijakan Energi Nasional yang diterbitkan melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 0983 K/16/MEM/2004 telah ditindaklanjuti dengan menyusun Blueprint Pengelolaan Energi Nasional (BP-PEN) 2005 - 2025. Perpres No. 5 Tahun 2006 menargetkan bahwa pada tahun 2025 tercapai elastisitas energi kurang dari 1 (satu) dan energi mix primer yang optimal dengan memberikan peranan yang lebih besar terhadap sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.

Salah satu kendala bagi sektor ketenagalistrikan adalah industrinya yang belum kompetitif. Untuk itu strategi yang dilakukan Pemerintah antara lain mendorong investasi swasta bagi pengembangan energi, dengan upaya:

§  Penerapan insentif ekonomi, baik dalam bentuk fiskal maupun non fiskal, khususnya untuk pasokan energi bagi kebutuhan domestik, pengembangan energi baru terbarukan dan peningkatan efisiensi energi.

§  Pemberian insentif ekonomi bagi investasi baru untuk pengembangan infrastruktur energi.

§   Pengembangan infrastruktur energi, termasuk infrastruktur listrik.

§  Pengembangan pasar domestik untuk energi alternatif, khususnya bio fuel. 

Tabel berikut menunjukkan produksi dan konsumsi listrik nasional per tahun (GWh) selama periode tahun 2002 hingga tahun 2007.

 

Tahun

Produksi

Konsumsi

2007

143.682,02

121.521,81

2006

126.168,62

112.609,80

2005

124.449,59

107.031,26

2004

120.244,31

99.425,79

2003

113.019,68

90.439,69

2002

108.191,35

87.409,19

Sumber: Warta Ekonomi, No. 16 Tgl 4 Agustus 2008

 

Berdasarkan data dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, kapasitas terpasang pembangkit listrik saat ini sebesar 29.705 MW. Kapasitas tersebut berasal dari pembangkit PLN sebesar 24.925 MW atau 83,29% dari total kapasitas terpasang, pembangkit swasta (IPP) sebesar 3.984 MW atau 13,41%, dan pembangkit terintegrasi (PPU) sebesar 796 MW atau 3,30%. Sumber energi primer untuk pembangkit tenaga listrik berupa batubara sebesar 48,8%, gas (17,0%), BBM (11,4%), Panas Bumi (6,1%), Hidro (9,1%), dan lainnya seperti biofuel, batubara hybrid sebesar 7%. Rasio elektrifikasi saat ini sekitar 64,3% dan rasio desa berlistrik sebesar 91,9%. Adapun sasaran kelistrikan adalah tercapainya rasio elektrifikasi sebesar 65,3% pada tahun 2009, 67,2% pada tahun 2010 dan 93% pada tahun 2025. Untuk rasio desa berlistrik diharapkan tercapai 100% pada tahun 2010.

Lima menteri, terdiri dari Menteri Perindustrian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Dalam Negeri serta Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara telah menerbitkan Peraturan Bersama tentang Pengoptimalan Beban Listrik Melalui Pengalihan Waktu Kerja pada Sektor Industri di Jawa – Bali, pada tanggal 14 Juli 2008. Inti dari peraturan tersebut menetapkan bahwa perusahaan industri setiap bulannya wajib mengalihkan satu sampai dengan dua hari waktu kerja pada hari Senin sampai dengan Jumat ke hari Sabtu dan Minggu. Hal ini bertujuan untuk mengatasi ketidakseimbangan pasokan listrik PT. PLN (Persero) dengan kebutuhan listrik sektor industri, serta menghindari pemadaman listrik sehingga sektor industri dapat melakukan operasi dengan baik.

Posted in Makro Ekonomi | No Comments »

Kondisi Makro Ekonomi Periode Januari - September 2008

November 4th, 2008 by arinamse

Secara makro perekonomian Indonesia saat ini menghadapi masalah tingkat inflasi yang relatif tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, diantaranya akibat kondisi pasar keuangan eksternal yang bergejolak. Ke depannya tantangan akan semakin membesar, namun demikian sampai dengan Triwulan II 2008, laporan Badan Pusat Statistik menyebutkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2007 sebesar 6,3%. Untuk 2008, BI memprediksi perekonomian RI tumbuh 6,2% atau melambat dari perkiraan sebelumnya.

 

Bank Indonesia juga memandang perekonomian Indonesia ke depan masih menghadapi tentangan di tengah ketidakpastian perekonomian global. Dalam pertumbuhan ekonomi RI, permintaan domestik berupa konsumsi rumah tangga dan investasi akan semakin berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. Sementara peranan ekspor akan semakin berkurang sebagai konsekuensi dari kondisi global yang kurang kondusif. Kenaikan GDP yang cukup stabil dari tahun 2000 sangat membantu meningkatkan kepercayaan publik baik di dalam negeri maupun luar negeri walau target Pemerintah tahun 2008 pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% menjadi tantangan besar.

 

a.     Tingkat Inflasi

Walaupun target awal inflasi ada pada kisaran 5%±1% untuk tahun 2008, namun Gubernur BI Boediono menyampaikan bahwa inflasi pada 2008 dapat meningkat pada kisaran 11,5-12,5% (yoy), terlebih dengan adanya kebijakan kenaikan harga BBM oleh Pemerintah di bulan Mei 2008. Untuk itu BI akan memanfaatkan secara optimal seluruh piranti moneter yang ada, baik melalui BI Rate, pengendalian volatilitas nilai tukar, penyerapan ekses likuiditas, optimalisasi Operasi Pasar Terbuka (OPT), maupun kebijakan-kebijakan lainnya. Kecenderungan inflasi tinggi masih dapat dilihat pada bulan September 2008 sebesar 0,97% sehingga laju inflasi tahun kalender (Januari-September) 2008 sebesar 10,47%, sedangkan laju inflasi “year on year” (September 2008 terhadap September 2007) sebesar 12,14%. Dalam jangka pendek tekanan inflasi diperkirakan masih terus terjadi baik yang berasal dari domestik maupun imported inflation namun tekanan karena kenaikan harga BBM oleh Pemerintah di bulan Mei 2008 telah mereda dan ke depannya pada Triwulan IV 2008 tekanan inflasi diperkirakan dapat kembali meningkat terlebih dengan tren pelemahan Rupiah yang masih berlanjut dan masa – masa liburan Natal dan Tahun Baru.

b.     Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar

Nilai tukar Rupiah sempat menguat pada Triwulan I 2008 (dari Rp 9.419,- per USD menjadi Rp 9.217,-/USD), relatif sama pada Triwulan II 2008, maka pada Triwulan III 2008 nilai tukar Rupiah cenderung melemah terhadap USD (dari Rp 9.225,- per USD menjadi Rp 9.378,-/USD). Kondisi yang berfluktuatif ini diperkirakan terus berlangsung sampai dengan akhir tahun 2008. Pada dasarnya gejolak nilai tukar ini didominasi oleh faktor ekstern yang diluar kendali Pemerintah sehingga peran BI untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah menjadi sangat pentingn melalui kebijakan-kebijakan moneternya. Namun demikian peran Pemerintah untuk lebih memperkuat makro ekonomi dapat membantu menstabilkan nilai Rupiah, diantaranya dengan upaya meningkatkan investasi di sektor riil (infrastruktur, industri, pertanian) selain mengurangi angka pengangguran yang saat ini sebesar 10,01 juta orang (Agustus 2007) dan kemiskinan yang saat ini sebanyak 37,2 juta jiwa (Maret 2007). Sementara BI memperkirakan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sampai dengan akhir tahun 2008 diperkirakan akan mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

c.     Suku Bunga SBI

Sepanjang Triwulan III 2008 BI Rate naik tiga kali masing – masing 25 basis poin menjadi 9,25% dilatarbelakangi tekanan inflasi yang semakin kuat. Walaupun kondisi ekonomi global masih dalam masa krisis, kenaikan BI Rate tidak bisa dihindari karena akibat inflasi yang terus melonjak. Namun demikian kenaikan BI Rate yang sedikit demi sedikit diharapkan tidak terlalu membebani kondisi perekonomian secara keseluruhan. Pada saat yang bersamaan Fed Rate tetap pada level 2% dalam upaya The Fed mencegah dampak buruk krisis ekonomi yang meluas walaupun inflasi di Amerika sendiri menunjukkan peningkatan.

d.     Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai dengan September 2008 masih menunjukkan fluktuasi yang tinggi dimana per 30 September 2008 ditutup pada level 1.832,51 atau telah turun 33,26% dibandingkan awal tahun 2008. Sepanjang Triwulan IV 2008 indeks diperkirakan masih mengalami gejolak naik turun yang cukup tinggi dan sangat sulit diprediksi mengingat kondisi keuangan global yang tidak menentu juga sangat mempengaruhi kinerja bursa.

Posted in Makro Ekonomi | No Comments »