Suku Bunga Meningkat, Indeks Melemah
September 16th, 2008 by arinamseSuku bunga cenderung mengalami peningkatan saat ini, dimana BI Rate per tanggal 4 September 2008 sebesar 9,25%, atau meningkat dibandingkan dengan posisi per awal tahun 2008 sebesar 8,00%. Menurut siaran pers Bank Indonesia, keputusan BI tersebut diambil setelah mencermati dan mempertimbangkan perkembangan dan prospek ekonomi global, regional dan domestik dalam rangka menjaga stabilitas perekonomian dan sistem keuangan Indonesia, khususnya untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi dalam jangka menengah. Bank Indonesia masih melihat bahwa sampai saat ini tekanan inflasi di dalam negeri masih kuat, terutama sebagai akibat dari permintaan agregat yang tumbuh cepat. Tekanan dari kenaikan harga energi, pangan dan komoditi di pasar dunia sementara ini mereda, tetapi tetap harus diwaspadai. Bank Indonesia memandang perlu untuk menjaga dan mengamankan agar permintaan agregat tetap tumbuh dalam jalur yang aman bagi pencapaian sasaran inflasi dan kestabilan ekonomi pada umumnya dalam jangka menengah. Untuk mencapai sasaran tersebut, Bank Indonesia akan tetap mengoptimalkan penggunaan seluruh instrumen kebijakan moneter yang tersedia. Industri perbankan berperan dalam menopang stabilisasi ekonomi makro dengan tetap memegang prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit, yang saat ini tumbuh cukup tinggi. Dengan kebijakan yang terpadu, diharapkan inflasi pada tahun 2009 akan dapat dibawa kembali pada kisaran 6,5%-7,5%.
Di lain pihak, perkembangan terbaru memberitakan bahwa bangkrutnya Lehman Brothers menyeret indeks saham di berbagai negara turut melemah. Bursa saham di Eropa rata-rata anjlok sekitar 3%-4%, sementara bursa saham Amerika rata-rata turun sampai 2% (sumber: Investor Daily, 16 Sep 2008). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun ikut melemah, dimana indeks pada penutupan per tanggal 15 September 2008 berada pada level 1.719,25, atau menurun sebesar 37,39% YTD dibandingkan dengan posisi per 28 Desember 2007 pada level 2.745,83. What a significant decrease!!!! Hari ini pun indeks sempat menyentuh level 1.500an. Kondisi regional turut berperan pada penurunan IHSG tersebut. Ada laporan yang menyebutkan bahwa 117 bank di Amerika mengalami kebangkrutan. Penyebabnya antara lain kasus subprime mortgage yang tak kunjung usai. Harga minyak dunia pun saat ini berada di bawah level $100 / barrel dan cenderung menurun setelah sebelumnya sempat menyentuh level $ 150 / barrel.
Masih mengutip Investor Daily, krisis kredit perumahan berisiko tinggi (subprime) menyebabkan kebangkrutan Lehman Brothers. Utang tanpa jaminan Lehman kepada 10 krediturnya yang terbesar saja telah mencapai US$ 157 miliar. Merrill Lynch & Co juga menyerah dan bersedia diambil alih oleh Bank of America Group Corp seharga US$ 50 miliar. Semua hal tersebut belum mengungkap kemungkinan adanya kredit macet yang berasal dari tunggakan kartu kredit di Amerika. Masyarakat Amerika banyak yang berhutang kartu kredit hingga mereka tidak sanggup mengatur keuangannya dan banyak yang macet. Hal ini pernah dibahas di acara Oprah Winfrey Show.
Menurut Goei Siauw Hong, IHSG dapat merosot hingga 50% dari rekor tertinggi, setelah itu IHSG akan stagnan. Namun beberapa analis lain berpendapat bahwa fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup bagus, begitu pula dengan laporan keuangan publikasi emiten per 30 Juni 2008. Salah satu sekuritas memperkirakan bahwa EPS growth Indonesia tahun 2008 sebesar 10,7% dengan estimasi Price Earning Ratio sebesar 9,4% dan estimasi Return on Equity sebesar 28,7%. IHSG diperkirakan berada pada range 1.560 - 2.430 pada akhir tahun 2008.
Sebenarnya apa inti dari tulisan di atas? Aku berpendapat (opini pribadi maupun teman2 analis lainnya) untuk investasi, sebaiknya kita tetap menempatkan sebagian dana pada deposito. Saat ini counter rate deposito berkisar antara 6.5% - 8.5% (normalnya). Untuk dana diatas 100 juta bisa nego. Selain itu, bagi investor Reksadana, dapat melakukan averaging cost down atau melakukan pembelian reksadana (khususnya RD saham atau RD indeks) pada harga yang cukup rendah. Hal ini diharapkan dapat memperkecil harga perolehan reksadana tersebut. Sedangkan untuk pemain saham, sebaiknya tetap memperhatikan pergerakan indeks karena dikhawatirkan akan terus menurun, dan disarankan untuk memilih saham non komoditas (sehubungan dengan penurunan harga komoditas), saham yang memberikan dividen (sebagai pengganti penurunan harga saham), serta tetap memilih saham blue chip karena bagaimanapun saham blue chip memiliki fundamental perusahaan yang kuat meskipun saat ini harganya sedang turun.
Posted in Makro Ekonomi | No Comments »