Secara makro perekonomian Indonesia saat ini menghadapi masalah tingkat inflasi yang relatif tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut turut dipengauhi oleh perekonomian global yang secara keseluruhan juga menghadapi masalah yang sama.
Laporan Badan Pusat Statistik menyebutkan pertumbuhan ekonomi Triwulan I tahun 2008 mencapai 6,3% yoy, sama dibandingkan pertumbuhan tahun 2007 sebesar 6,3%. Untuk tahun 2008, Bank Indonesia memprediksi perekonomian RI tumbuh sebesar 6,2% atau melambat dari perkiraan sebelumnya. BI juga memandang perekonomian Indonesia ke depan masih menghadapi tentangan di tengah ketidakpastian perekonomian global. Dalam pertumbuhan ekonomi RI, permintaan domestik berupa konsumsi rumah tangga dan investasi akan semakin berperan dalam menggerakkan roda perekonomian. Sementara peranan ekspor akan semakin berkurang sebagai konsekuensi dari kondisi global yang kurang kondusif. Kenaikan GDP yang cukup stabil dari tahun 2000 sangat membantu meningkatkan kepercayaan publik baik di dalam negeri maupun luar negeri walau target Pemerintah tahun 2008 pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% menjadi tantangan besar.
a. Tingkat Inflasi
Mulai tanggal 1 Juli 2008, penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan Juni 2008 menggunakan tahun dasar 2007 = 100 (sebelumnya 2002 = 100) yang didasarkan pada hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2007. Dengan menggunakan tahun dasar baru (2007 = 100), pada bulan Juni 2008 telah terjadi inflasi sebesar 2,46%, dimana kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan memberikan sumbangan yang paling besar terhadap inflasi, yaitu sebesar 1,55%, disusul oleh kelompok bahan makanan sebesar 0,31% serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,27%. Dari kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan yang mengalami peningkatan laju inflasi tertinggi selama bulan Juni 2008 sebesar 8,72%, komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain bensin sebesar 0,83% (sebagai dampak dari kenaikan harga BBM pada akhir Mei 2008), angkutan dalam kota sebesar 0,54%, angkutan antar kota sebesar 0,08% dan bahan pelumas/oli, angkutan udara serta solar masing-masing sebesar 0,02%.
Laju inflasi tahun kalender (Januari – Juni 2008) sebesar 7,37%, sedangkan laju inflasi year on year (Juni 2008 terhadap Juni 2007) sebesar 11,03%. Inflasi selama periode Januari hingga Juni 2008 tersebut terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok barang dan jasa sebagai berikut: kelompok bahan makanan 10,41% ytd, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 9,73% ytd, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 7,05% ytd, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 6,03% ytd, kelompok kesehatan 5,07% ytd, kelompok sandang 3,83% serta kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 1,95% ytd. Tingkat inflasi selama Semester I tahun 2008 sebesar 7,37% lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi selama periode yang sama tahun 2007 sebesar 2,08%.
b. Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar
Nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia per tanggal 30 Juni 2008 sebesar Rp 9.225/US$ atau menguat sebesar 2,06% ytd dibandingkan dengan posisi kurs per tanggal 28 Desember 2007 sebesar Rp 9.419/US$. Penguatan Rupiah tidak terlepas dari upaya BI untuk menstabilkan nilai Rupiah yang dalam beberapa bulan terakhir selalu mengalami tekanan akibat pesimisme terhadap ekonomi global dan tingginya harga minyak dunia. Diperkirakan dalam jangka pendek nilai tukar Rupiah masih berada di kisaran Rp 9.200,- s/d 9.400,- per USD. Menguatnya nilai tukar Rupiah tersebut juga didukung oleh Neraca Pembayaran Indonesia yang menunjukkan kinerja baik seiring dengan tingginya harga komoditas internasional, sehingga berdampak positif terhadap kestabilan nilai tukar Rupiah. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa Indonesia sampai dengan akhir Juni 2008 tercatat US$ 59,45 miliar atau setara dengan 5,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Surplus transaksi berjalan Triwulan II tahun 2008 diperkirakan tetap tinggi mencapai USD 2,6 miliar atau 2,3% dari PDB.
Secara umum, cadangan devisa Indonesia menunjukkan peningkatan secara bertahap, dari US$ 56,920.00 juta per akhir Desember 2007 menjadi US$ 59,453.00 juta per akhir Juni 2008. Tingginya cadangan devisa pada bulan Juni 2008 merupakan kontribusi dari penerbitan Obligasi Negara dalam Valuta Asing pada tanggal 17 Juni 2008 dengan nilai total sebesar US$ 2,2 miliar, atau melebihi target Pemerintah sebesar US$ 1,5 miliar. Dengan posisi Fed Fund Rate sebesar 2,00%, pasar mempercayai bahwa BI Rate akan naik menjadi 8,75% pada Rapat Dewan Gubernur BI yang akan diselenggarakan pada awal Juli 2008, sebagai dampak dari peningkatan laju inflasi. Dengan demikian, spread antara BI Rate dan Fed Fund Rate diharapkan menjadi sebesar 6,75%, sehingga Obligasi Negara yang ditawarkan Pemerintah RI akan menghasilkan extra yield bagi investor. Cadangan devisa sempat mengalami penurunan selama periode Maret (US$ 58,987.00 juta) hingga Mei 2008 (US$ 57,464.00 juta), yang juga berpengaruh pada pelemahan nilai tukar Rupiah selama periode tersebut, dari Rp 9.217/US$ menjadi Rp 9.318/US$.
c. Suku Bunga SBI
Selama Semester I tahun 2008, BI Rate menunjukkan kestabilan dari awal Januari hingga awal April 2008 pada level 8,00%, serta kemudian meningkat pada tanggal 6 Mei 2008 sebesar 8,25% dan pada tanggal 5 Juni 2008 sebesar 8,50%. Kecenderungan peningkatan BI Rate tersebut ditetapkan setelah mencermati perkembangan perekonomian global maupun domestik. Masih tingginya harga komoditas energi dan bahan pangan dunia serta dampak kenaikan harga BBM memberikan tekanan pada inflasi di tahun 2008. Bank Indonesia juga melihat bahwa tren peningkatan permintaan domestik turut memberikan tekanan pada inflasi inti. Sebagai informasi, harga minyak dunia berdasarkan WTI cushing selama Semester I tahun 2008 cenderung meningkat dari US$ 96/barrel per 28 Desember 2007 menjadi US$ 140.00/barrel per 30 Juni 2008, dengan harga tertinggi pada tanggal 27 Juni 2008 mencapai US$ 140.21/barrel. Di lain pihak, harga kedelai selama periode Januari hingga Februari 2008 cenderung meningkat, dimana harga per tanggal 31 Desember 2007 sebesar US$ 1,199/bu menjadi US$ 1,605/bu per tanggal 30 Juni 2008.
Kebijakan peningkatan BI Rate tersebut berbeda dengan trend suku bunga US Federal Fund Rate yang terlihat menurun selama Semester I tahun 2008, dari 4,25% menjadi 2,00%. Informasi terkini mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi secara keseluruhan terus mengalami ekspansi, dimana sebagian merefleksikan pengeluaran dalam sektor perumahan. Namun demikian, pasar tenaga kerja mengalami pelemahan serta pasar finansial masih cukup tertekan. Kondisi kredit yang ketat, kontraksi dalam sektor perumahan yang masih berkelanjutan dan peningkatan harga energi diperkirakan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam beberapa Triwulan mendatang. Federal Open Market Committee (FOMC) berharap inflasi akan lebih moderat pada akhir tahun 2008 dan tahun 2009 mendatang. Namun, dengan kecenderungan peningkatan harga energi dan komoditas lainnya maka masih terdapat kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi.
Kecenderungan peningkatan BI rate selama Semester I tahun 2008 telah diikuti oleh peningkatan suku bunga SBI 1 bulan dan SBI 3 bulan terutama pada periode Mei hingga Juni 2008.
d. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki Triwulan II tahun 2008 masih menunjukkan volatilitas yang tinggi akibat investor yang belum yakin dengan kondisi pasar keuangan global. Akibat kondisi tersebut membuat indeks bergerak fluktuatif dan pada tanggal 30 Juni 2008 ditutup pada level 2.349,11 atau turun sebesar 17,50% dan 4,01% dibandingkan akhir tahun 2007 dan akhir Triwulan I tahun 2008. Dalam jangka pendek indeks diperkirakan masih bergerak fluktuatif sehingga menuntut kecermatan dalam melakukan transaksi di bursa saham.
IHSG dibuka pada level 2.745,826 pada tanggal 2 Januari 2008 dan ditutup pada level 2.349,105 pada tanggal 30 Juni 2008 menunjukkan penurunan sebesar 17,50%. Level tertinggi IHSG dicapai pada tanggal 9 Januari 2008 mencapai 2.830,263 dan terendah pada tanggal 9 April 2008 pada level 2.180,089. Kontribusi terbesar penurunan kinerja IHSG tersebut berasal dari Jakarta Construction, Properti, Real Estate Index (JAKPROP) sebesar -35,46%, diikuti Jakarta Infrastructure, Utilities & Transportations Index (JAKINFR) sebesar -27,98%, Jakarta Miscellaneous Industries Index (JAKMIND) sebesar -27,15% dan Jakarta Finance Index (JAKFIN) sebesar -24,60%. Kinerja tertinggi selama periode tersebut diperoleh Jakarta Agricultural Index (JAKAGRI) yang meningkat sebesar 7,15%.
Berdasarkan data Bapepam, nilai kapitalisasi pasar saham di Bursa Efek Indonesia meningkat sebesar 18,44% yoy dari Rp 1.506,00 triliun (hanya Bursa Efek Jakarta) pada akhir perdagangan Juni 2007 menjadi Rp 1.783,67 triliun (gabungan antara Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya) per akhir Juni 2008. Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia selama Semester I tahun 2008 mencapai Rp 646,98 triliun (investor lokal berkontribusi 75,96% dan investor asing 24,04%), atau naik sebesar 53,25% yoy dibandingkan dengan total nilai transaksi periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 422,16 triliun (investor lokal berkontribusi 79,48% dan investor asing 20,52%).